|
25 Agustus
2008
Tunas
Hijau Percantik LPA Benowo Dengan Mural
Meski Bau Menyengat,
Peserta Tetap Konsentrasi Selesaikan Mural
Sukses
mewarnai tembok SMP Negeri 16 Surabaya dengan mural
lingkungan pada Maret lalu, kini Tunas Hijau kembali
menggelar mural di LPA Benowo Surabaya. Lomba yang digelar
bersama Bapedal Jatim, Pemkot Surabaya, Radio EBS FM
Surabaya dan PT. Dharma Lautan Utama ini bertema Pemanasan
Global. Tentu saja, acara ini sanggup mengubah suasana
Minggu, 25 Mei 2008 pagi di LPA Benowo Surabaya.
“Kami sengaja
menyelenggarakan lomba mural ini di LPA Benowo, sebab
nantinya LPA Benowo akan dijadikan salah satu obyek wisata
lingkungan di Surabaya. Sehingga perlu upaya mempercantik
lokasi. Nah.. salah satu caranya adalah muralisasi ini, yang
kami lombakan menjadi dua kategori, yaitu SMP dan SMA,” kata
Bayu Dwi Putra, Direktur Mural Benowo 2008.
Meski
lomba diselenggarakan di pinggiran kota, para peserta tetap
bersemangat mengikuti lomba mural ini. Hal itu terlihat dari
banyaknya peserta yang telah memadati area registrasi ulang
sebelum pukul 07.00 pagi. “Aku semangat banget ikut acara
ini sampe aku bela-belain berangkat jam setengah enam lho
dari rumah. Biar nggak telat gitu,” cerita salah satu
pelajar dari SMP Khadijah I Surabaya.
Setelah melengkapi form
registrasi ulang, para peserta diperbolehkan mengambil jatah
cat warna merah, kuning, biru, putih dan hitam pada panitia.
Peserta pun diperbolehkan segera membuat sketsanya di
dinding yang telah ditentukan sesuai nomor undian peserta.
Kompetisi
mural ini dibuka oleh Plt. Kepala Bapedal Jawa Timur Dewi
Putriani. Dalam sambutannya, Dewi mengaku sangat mendukung
program ini dengan harapan dapat meningkatkan partisipasi
masyarakat untuk menghambat pemanasan global. “Saya harap
program ini dapat menambah peran masyarakat dalam
mengantisipasi dampak pemanasan global,” kata Dewi.
Beberapa saat kemudian, para
peserta telah mendapatkan kebebasan mutlak untuk
menyelesaikan karyanya dalam lima jam. “Agak susah juga
nyelesaiin dalam lima jam soalnya tempatnya bau sih. Tapi
aku yakin masih bisa konsen gambar dan nyelesaiin muralku
sebelum lima jam. Justru bau itu kan yang jadi tantangannya.
Pokoknya harus berusaha biar pesanku buat semua orang untuk
mulai peduli lingkungan bisa sampai,” ungkap Anthony,
peserta dari SMP Ciputra Surabaya sambil terus menggambar.
Seluruh
peserta memang terlihat serius mengerjakan konsep muralnya
masing-masing. Tak main-main, kompetisi ini juga dinilai
oleh orang-orang yang telah berpengalaman di bidangnya.
Sebut saja Rachmah Ida, Ph.D. pakar Komunikasi Unair yang
juga penasehat Tunas Hijau, komikus Tunas Hijau Andi
Kusmianto, dan grafis Tunas Hijau Wayan. Mereka semua memang
orang-orang yang mumpuni untuk menilai semua karya peserta.
Hasilnya pun diumumkan hari itu juga sehingga mereka dapat
segera mengetahui siapa yang berhak mendapatkan tropi
gubernur dan wali kota Surabaya, serta total hadiah delapan
juta. (Puteri Rakhmawati) |