25 April 2010
Puteri Lingkungan Hidup 2009 Alya
Thalafadhilla:
Asyiknya Eco Wisata Ke Pulau Sumbawa
Nama
saya Alya Thalafadillah. Saya Puteri
Lingkungan Hidup 2009. Selama saya
menjadi Putri Lingkungan Hidup 2009
ini, saya mempunyai banyak
pengalaman yang sangat berharga.
Misalnya, saya dapat mengetahui
kondisi TPA Benowo, yaitu tempat
pembuangan akhir sampah yang
dihasilkan masyarakat se Kota
Surabaya. Mengetahui kondisi TPA
Benowo tidak mudah, karena lahan ini
adalah daerah yang tidak bisa
diakses oleh sembarangan orang tanpa
ijin.
Di TPA Benowo ini, saya dan
teman-teman finalis pangeran dan
puteri lingkungan hidup 2009 saat
itu dibuat sangat terkejut. TPA ini
sangat luas, yaitu sekitar 37 hektar
atau 370.000 meter persegi. Jika
dibandingkan dengan ukuran lapangan
sepak bola standar internasional,
yang hanya sekitar 5000 meter
persegi, maka ada sekitar 70
lapangan sepak bola. Bila dijadikan
rumah mewah, maka di lahan ini bisa
dibuat ratusan rumah mewah dengan
lahan yang luas.
Pengalaman lainnya adalah tentang
bagaimana cara memilah sampah dan
mengolahnya. Caranya sangat mudah,
sampah organik dipisahkan
selanjutnya diolah menjadi kompos.
Sedangkan sampah non organik bisa
diberikan atau dijual kepada
pemulung. Sampah non organik juga
bisa didaur ulang. Pendaurulangan
sampah non organik bisa dilakukan
dengan cara manual menjadi
barang-barang kerajinan. Bisa juga
dilakukan dengan industri, yaitu
dengan memastikan sampah non organik
yang sejenis diolah kembali melalui
pabrik.
Pengalaman
yang paling menarik menurut saya
adalah saat melakukan eco
wisata atau wisata lingkungan hidup
Pulau Sumbawa, provinsi Nusa
Tenggara Barat, yang disediakan oleh
PT. Newmont Nusa Tenggara, salah
satu sponsor Penganugerahan Pangeran
dan Puteri Lingkungan Hidup 2009.
Eco wisata ini adalah hadiah
bagi tiga orang pemenang pangeran
lingkungan hidup 2009 dan tiga orang
pemenang puteri lingkungan hidup
2009. Saat kali pertama kaki saya
menginjakkan pulau ini, terlihat
jelas pemandangan alam yang sangat
bagus. Bukit-bukit yang masih hijau
dengan banyaknya pepohonan dengan
udara sejuk yang bisa kita hirup
bebas.
Pemandangan indah juga bisa
dirasakan di pantai-pantainya.
Pantai nampak berwarna biru, nyaris
tanpa ada sampah sedikitpun. Tidak
terkecuali kondisi jalanan yang kami
lewati, nampak jelas banyak
pepohonan rindang yang dibiarkan
tumbuh menjulang tinggi. Bahkan
sesampai kami di penginapan, kami
masih dapat melihat banyak
binatang-binatang kecil yang tidak
pernah saya lihat di kota besar
seperti Surabaya. Binatang-binatang
itu nampak hidup bebas.
(narendra/roni)