|
7 Mei 2010
Guru
Koordinator LH Sekolah Adiwiyata Nasional
SDN Kandangan III Surabaya Siti Fatonah:
Pemilahan Sampah Harus Disertai Penyediaan
Tempat Sampah Yang Memadai Dan Sosialisasi
Menerapkan
pemilahan sampah di sekolah, khususnya di
sekolah dasar, tidak semudah yang
dibayangkan. Namun, tidak juga sesuatu yang
mustahil untuk diwujudkan. Hal mendasar yang
harus disiapkan sebelum pemilahan sampah
diterapkan adalan mekanisme dan aturan. Pada
mekanisme ini perlu ditetapkan pemilahan
sampah akan dilakukan menjadi berapa jenis.
Bisa menjadi dua jenis, yaitu sampah
organik dan non organik. Bisa juga
dipisahkan menjadi lebih banyak jenis lagi,
yaitu sampah kertas, sampah plastik dan sisa
makanan.
Penyediaan
tempat sampah yang memadai harus dilakukan.
Penempatannya juga harus tepat sasaran,
yaitu di tempat yang biasanya warga sekolah
khususnya anak-anak membuang sampah. Upaya
setelah pemilahan sampah juga sangat penting
untuk dipikirkan. Jangan sampai terjadi,
setelah pemilahan sampah dilakukan di
sekolah, ternyata sampah hanya akan dicampur
lagi saat akan dikirim ke tempat pembuangan
akhir sampah. Hal ini akan membuat anak-anak
berpikir percuma untuk melakukan pemilahan
sampah di sekolah.
Pemilahan
sampah organik di sekolah seyogyanya bisa
langsung ditindaklanjuti dengan pengomposan
menggunakan beberapa alat pengomposan,
seperti keranjang Takakura atau tong aerob.
Pemilahan sampah kertas di sekolah
setidaknya disertai dengan penempatan tong
sampah berukuran besar di sekolah berukuran
besar. Selanjutnya, setelah terkumpul banyak,
semua sampah kertas itu bisa dijual,
disumbangkan kepada pemulung, atau didaur
ulang menjadi kertas baru. Ingat, semua
sampah kertas yang dihasilkan warga sekolah
biasanya adalah kertas putih yang memiliki
nilai jual kembali cukup tinggi.
Pembinaan
kepada seluruh warga sekolah, khususnya
siswa juga harus dilakukan. Pada awalnya,
membimbing siswa agar mau membuang sampah
pada tempatnya terkesan sulit. Meskipun
sudah disediakan tempat sampah yang memadai.
Hal ini mungkin disebabkan kebiasaan siswa
di rumahnya masing-masing yang berbeda-beda.
Namun, dengan sosialisasi yang terus menerus
di dalam kelas, lambat laun anak menjadi
terbiasa untuk membuang sampah pada
tempatnya. Walau terkadang ada yang tidak
sesuai tempatnya, khususnya anak kelas 1.
(akbar/roni) |