|
12 November 2009
Wali Kota Surabaya Peduli LH Drs. Bambang
Dwi Hartono, M.Pd. Yang Guru Matematika:
Guru Harus Ing
Ngarso
Sing
Tuladha,
Ing
Madya
Mangun
Karsa,
Dan Tut
Wuri
Handayani
Pada Kepedulian Lingkungan Hidup
Penyelenggaraan
pendidikan di sekolah
itu bukan hanya transfer knowledge
(pengetahuan).
Biasanya
ada tiga domain
yang
berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan di
sekolah,
yakni
kognitif,
afektif dan
psikomotorik.
Kognitif itu kecerdasan atau otak. Afektif
itu sikap atau perilaku. Sedangkan
psikomotor
adalah skill atau keterampilan (baik motorik
kasar ataupun
motorik halus).
Contohnya,
suatu saat saya dilapori banyak dokter yang
sering bolos di puskesmas pada awal saya
menjabat di pemerintah Kota
Surabaya.
Apa
yang muncul pertama kali
dalam
benak saya?
Yang
muncul dalam benak saya adalah tidak percaya.
Mengapa begitu??
Karena
dokter mendapat proses pendidikan yang lama.
Bila
tiga domain tadi disentuh sejak kecil,
maka
kognitifnya makin bagus (otaknya makin
pinter), skillnya
makin bagus
dan
afektifnya juga
harus
lebih baik.
Seorang guru
seharusnya
menyentuh ketiga domain tersebut,
sehingga
tidak hanya transfer knowledge.
Contohnya,
jangan anggap guru matematika itu hanya
mampu transfer knowledge.
Bila
guru
Matematika
tersebut menyadari punya tanggung jawab
merubah sikap, perilaku dan skill,
maka anak didik tidak hanya pandai
menganalisa,
mahir
penalaran dan terampil mengerjakan
soal.
Lebih dari itu, guru Matematika itu juga
bisa membangun sikap
siswa.
Sebagai
contoh ada dua orang guru matematika yang
berbeda. Guru A mengajarkan kepada siswa
tentang segitiga sama kaki.
Guru A tidak menggunakan penggaris
untuk
membuat gambar segitiga yang sama kaki atau
asal-asalan.
Sedangkan
guru B, dengan teratur menggunakan penggaris
untuk
menggambar segitiga sama kaki. Intinya ada
ketepatan
yang diperagakan guru B. Dengan sikap guru B
Matematika
itu,
maka akan
mampu
dibangun
mindset
(kerangka
berpikir) siswanya
agar
bekerja
tepat
dan
sempurna.
Guru sekolah
atau guru kelas memiliki tanggung jawab
untuk membangun
kepekaan sosial
dan kepekaan lingkungan
hidup. Berbeda dengan guru di bimbingan
belajar yang hanya melakukan transfer
pengetahuan. Guru sekolah adalah pembimbing
tumbuh kembang siswa. Guru sekolah itu harus
ing ngarso sing tuladha,
ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani
termasuk dalam kepedulian lingkungan hidup.
Ing
ngarso sing
tuladha
maksudnya
seorang
guru
harus bisa menjadi tauladan bagi siswanya
saat memimpin.
Ing
madya mangun karsa
maksudnya, seorang guru,
ketika berada di
tengah-tengah muridnya,
harus
memberikan motivasi.
Tut
wuri handayani
maksudnya, seorang guru harus
memberi kesempatan siswa bertindak dengan
masih memantaunya. |