Headquarters: Semolowaru Indah T-9, Surabaya - 60119, Indonesia. Phone/Fax: +62-31- 5996816, Email: info@tunashijau.org

ProgramGaleri FotoGaleri PosterGaleri KomikGaleri LaguPenerbitanSekolah HijauProfilFakta & Info
 

12 November 2009

Wali Kota Surabaya Peduli LH Drs. Bambang Dwi Hartono, M.Pd. Yang Guru Matematika:

Guru Harus Ing Ngarso Sing Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Dan Tut Wuri Handayani Pada Kepedulian Lingkungan Hidup

Penyelenggaraan pendidikan di sekolah itu bukan hanya transfer knowledge (pengetahuan). Biasanya ada tiga domain yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Kognitif itu kecerdasan atau otak. Afektif itu sikap atau perilaku. Sedangkan psikomotor adalah skill atau keterampilan (baik motorik kasar ataupun motorik halus).

Contohnya, suatu saat saya dilapori banyak dokter yang sering bolos di puskesmas pada awal saya menjabat di pemerintah Kota Surabaya. Apa yang muncul pertama kali dalam benak saya? Yang muncul dalam benak saya adalah tidak percaya. Mengapa begitu?? Karena dokter mendapat proses pendidikan yang lama. Bila tiga domain tadi disentuh sejak kecil, maka kognitifnya makin bagus (otaknya makin pinter), skillnya makin bagus dan afektifnya juga harus lebih baik.

Seorang guru seharusnya menyentuh ketiga domain tersebut, sehingga tidak hanya transfer knowledge. Contohnya, jangan anggap guru matematika itu hanya mampu transfer knowledge. Bila guru Matematika tersebut menyadari punya tanggung jawab merubah sikap, perilaku dan skill, maka anak didik tidak hanya pandai menganalisa, mahir penalaran dan terampil mengerjakan soal. Lebih dari itu, guru Matematika itu juga bisa membangun sikap siswa.

Sebagai contoh ada dua orang guru matematika yang berbeda. Guru A mengajarkan kepada siswa tentang segitiga sama kaki. Guru A tidak menggunakan penggaris untuk membuat gambar segitiga yang sama kaki atau asal-asalan. Sedangkan guru B, dengan teratur menggunakan penggaris untuk menggambar segitiga sama kaki. Intinya ada ketepatan yang diperagakan guru B. Dengan sikap guru B Matematika itu, maka akan mampu dibangun mindset (kerangka berpikir) siswanya agar bekerja tepat dan sempurna.

Guru sekolah atau guru kelas memiliki tanggung jawab untuk membangun kepekaan sosial dan kepekaan lingkungan hidup. Berbeda dengan guru di bimbingan belajar yang hanya melakukan transfer pengetahuan. Guru sekolah adalah pembimbing tumbuh kembang siswa. Guru sekolah itu harus ing ngarso sing tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani termasuk dalam kepedulian lingkungan hidup.

Ing ngarso sing tuladha maksudnya seorang guru harus bisa menjadi tauladan bagi siswanya saat memimpin. Ing madya mangun karsa maksudnya, seorang guru, ketika berada di tengah-tengah muridnya, harus  memberikan motivasi. Tut wuri handayani maksudnya, seorang guru harus memberi kesempatan siswa bertindak dengan masih memantaunya.

7 Mei 2010, Guru Koordinator LH SDN Kandangan III Surabaya Siti Fatonah: Pemilahan Sampah Harus Disertai Penyediaan Tempat Sampah Yang Memadai Dan Sosialisasi

24 Maret 2010, Kepala Sekolah SMA/SMK Berprestasi Se Jawa Timur 2008 Kumudawati: Belum Meratanya Pendidikan Lingkungan Hidup di Setiap Kota/Kabupaten

2 Desember 2009, Kepala SMA Negeri 5 Jember Husnawiyah: Sibuk Membuat Replikasi Sekolah Ramah Lingkungan Hidup Di Jember

12 November 2009,  Wali Kota Surabaya Peduli LH Drs. Bambang Dwi Hartono, M.Pd. Yang Guru Matematika: Guru Harus Ing Ngarso Sing Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Dan Tut Wuri Handayani Pada Kepedulian Lingkungan Hidup

22 September 2009, Ir. Gunawan, Guru Pembimbing Di Balik Keberhasilan Siswa Menjuarai Berbagai Penelitian Internasional: Memulai Penelitian Lingkungan Hidup Butuh Cara, Waktu, Pendukung Dan Orang Yang Tepat

15 September 2009, Kepala SDN Petemon 13 Surabaya Harsoyo: Susah, Buat Muatan Lokal Lingkungan Hidup Sendiri Untuk SD Negeri

8 September 2009, Duo Aktivis Srikandi Tunas Hijau di Konservasi Hutan Dataran Tinggi Triani Candra Kusuma Dewi dan Reby Dwi Prataopu

1 September 2009, Koordinator Green Education Al Muslim Intan Larasati: Dukungan Pemda Pada Program Sekolah Adiwiyata Harus Signifikan

25 Agustus 2009,  Guru Lingkungan Hidup SDK Santa Theresia I Surabaya Kristoforus Agus Pujianto: Program Sekolah Adiwiyata Tidak Semenarik Dulu