12 Desember 2009
SMAKSanto Stanislaus Pelopori
Penggunaan Cat Dengan Bahan Alami
Pada Lomba Membatik Pesan Lingkungan
Hidup
Surabaya-
Sekitar 350 siswa dari delapan SD,
SMP dan SMA di Surabaya mengikuti
Lomba Membatik Pesan Lingkungan
Hidup dengan menggunakan bahan-bahan
pewarnaan alami. Kegiatan yang
diselenggarakan oleh sekolah mitra
Tunas Hijau, SMA Katolik Santo
Stanislaus Surabaya, ini
dilaksanakan di Taman Prestasi
Surabaya, belakang Gedung Negara
Grahadi Surabaya, Sabtu (12/12)
pagi.
Pada
lomba ini, masing-masing peserta
lomba mendapat tas kain dari bahan
blaco. Ukuran bidang pada tas yang
digunakan menggambar adalah 33 x 39
cm. Masing-masing peserta juga
mendapat cat dengan bahan alami yang
digunakan sebagai bahan pewarnaan.
Selanjutnya para peserta menggunakan
kuas untuk membuat motif batik dan
pesan peduli lingkungan hidup pada
tas blaco yang disediakan.
Bahan cat alami yang digunakan,
menurut Kepala SMAK Santo
Stanislaus Lusia Krimsi, adalah
kunyit untuk warna kuning, daun jati
untuk warna coklat dan lombok untuk
warna merah. “Daun pandan digunakan
untuk warna hijau, buah juwet untuk
warna ungu, daun suji untuk warna
hijau, dan bunga mawar merah untuk
warna merah. Sedangkan kayu secang
digunakan untuk warna merah, wortel
untuk warna oranye, tomat untuk
warna merah, teh untuk warna coklat,
biji kopi untuk warna coklat
kehitam-hitaman dan buah manggis
untuk warna ungu,” kata Lusia.
Sedangkan
batik menjadi motif yang diangkat
pada lomba ini karena batik
merupakan kekayaan budaya bangsa
Indonesia yang telah diakui UNESCO.
Dengan demikian para siswa sebagai
generasi penerus bangsa diharapkan
semakin mengenal dan mencintai batik
Indonesia. Demikian juga dengan
pesan lingkungan hidup yang menjadi
tema lomba ini, diharapkan para
siswa yang menjadi generasi penerus
bangsa semakin memiliki kepedulian
lingkungan hidup dengan melakukan
hal-hal nyata.
Kegiatan ini adalah salah satu upaya
untuk mengajak para siswa SMA
Katolik Santo Stanislaus Surabaya
dan beberapa sekolah lain untuk
mengenal kearifan budaya tradisional
Indonesia yang terkenal ramah
lingkungan hidup. “Kegiatan ini
adalah salah satu dari banyak cara
yang dilakukan SMAK Santo Stanislaus
Surabaya untuk ikut serta
menyemarakkan pendidikan lingkungan
hidup di Surabaya khususnya di
sekolah kami. Program-program
inovatif lingkungan hidup lainnya
juga akan kami lakukan sebagai
implementasi pendidikan lingkungan
hidup khususnya bagi warga sekolah
kami,” jelas Lusia Krismi.
Sementara itu di lokasi kegiatan
juga dipasang beberapa spanduk kain
bertuliskan pesan lingkungan hidup
yang juga menggunakan pewarnaan
alami. Majalah dinding peduli
lingkungan hidup dari barang bekas
juga dipasang. Majalah dinding
lingkungan hidup yang dipasang
adalah karya masing-masing kelas di
SMA Katolik Santo Stanislaus
Surabaya.