18 Desember 2009
Puteri LH 2009 Malang Raya
Cherissa Wahyu Pramais:
Banjir Sering Disebabkan Sampah Yang
Menyumbat Saluran Air
Saya
bersyukur rumah tempat tinggal saya
tidak pernah mengalami kebanjiran.
Maklum, saya tinggal di dataran
tinggi Kota Malang, yang dulu
terkenal dengan hawanya yang sejuk
dan dingin. Meskipun rumah tempat
tinggal saya tidak pernah
kebanjiran, bukan berarti saya tidak
pernah melihat banjir. Saya sering
melihat banjir. Diantaranya saat
saya berkunjung ke rumah keluarga
saya yang di Surabaya, tepatnya di
kawasan Wiyung, Surabaya Barat.
Waktu itu saya masih kelas 3 sekolah
dasar di Kota Malang.
Banjir identik dengan dampak dari
hujan deras yang turun. Banjir
selalu diikuti dengan lalu lintas
yang tidak normal di kawasan itu.
Bila banjirnya melebihi lutut orang
dewasa, maka banyaknya sepeda motor
dan mobil mogok menjadi pemandangan
umum yang terjadi. Banjir juga bisa
berakibat pada pengungsian
masyarakat dari tempat tinggal
mereka yang terendam banjir. Bila
terjadi pengungsian, maka banjir
mengakibatkan susahnya mendapatkan
makanan dan minuman yang layak.
Banyak
hal yang menyebabkan banjir terjadi.
Penyebab yang sering adalah
banyaknya sampah non organik yang
menyumbat saluran air. Saya sering
melihat ibu-ibu rumah tangga yang
membuang sampahnya langsung ke
selokan atau sungai di sekitar
rumahnya. Diantara mereka
berpendapat membuang sampah langsung
ke sungai atau selokan adalah cara
praktis dan mudah dilakukan tanpa
memikirkan dampak yang sangat
mungkin diakibatkan.
Penyebab lain terjadinya banjir
adalah sistem drainase saluran air
yang banyak diterapkan di pemukiman
di Indonesia. Selama ini, hampir
semua saluran air pembuangan dari
dapur dan kamar mandi di rumah-rumah
langsung menuju ke selokan atau
sungai tanpa disaring atau diolah
lebih dahulu. Akibatnya,
sampah-sampah organik sisa dapur
seperti butiran nasi atau sisa
sayuran sering terbawa hanyut ke
saluran air saat mencuci peralatan
dapur. Padahal, salah satu ciri
sampah organik itu, bila beberapa
minggu terendam di saluran air, maka
akan menjadi tanah endapan. Dalam
jumlah banyak, tanah endapan di
saluran air ini akan mengurangi daya
tampung di selokan itu.
Penyebab utama terjadinya banjir
adalah minimnya jumlah pepohonan
pelindung yang tumbuh di daerah
terjadinya banjir. Minimnya lahan
hijau terbuka sebagai daerah resapan
air hujan juga menjadi penyebab
utama terjadinya banjir ini. Maklum,
sudah menjadi fenomena umum bahwa di
hampir seluruh kota semakin susah
ditemui lahan kosong. Yang ada,
lahan-lahan kosong yang sebelumnya
menjadi daerah resapan air sering
berubah menjadi bangunan rumah atau
perkantoran.
Tentang
cara mencegah banjir, memperbanyak
menanam pepohonan pelindung menjadi
langkah utama yang bisa dan harus
dilakukan. Seperti yang Minggu lalu
saya dan 28 finalis pangeran dan
puteri lingkungan hidup 2009 Malang
raya lakukan saat karantina. Saat
itu, kami menanam bibit pohon di
lahan kritis di Kota Batu bersama
ketua tim penggerak PKK Kota Batu
yang juga istri wali Kota Batu.
Pemanfaatan lahan kosong di sekitar
untuk pepohonan menjadi suatu
keharusan. Bila tidak ada lahan
kosong, maka media pot bisa menjadi
alternatif. (*/ron)
*) Puteri Lingkungan Hidup 2009
Malang Raya
Cherissa Wahyu Pramais
adalah siswa SMP Negeri 3 Kota
Malang