Headquarters: Semolowaru Indah T-9, Surabaya - 60119, Indonesia. Phone/Fax: +62-31- 5996816, Email: info@tunashijau.org

ProgramGaleri FotoGaleri PosterGaleri KomikGaleri LaguPenerbitanSekolah HijauProfilFakta & Info
 

18 Desember 2009

Puteri LH 2009 Malang Raya Cherissa Wahyu Pramais:

Banjir Sering Disebabkan Sampah Yang Menyumbat Saluran Air

Saya bersyukur rumah tempat tinggal saya tidak pernah mengalami kebanjiran. Maklum, saya tinggal di dataran tinggi Kota Malang, yang dulu terkenal dengan hawanya yang sejuk dan dingin. Meskipun rumah tempat tinggal saya tidak pernah kebanjiran, bukan berarti saya tidak pernah melihat banjir. Saya sering melihat banjir. Diantaranya saat saya berkunjung ke rumah keluarga saya yang di Surabaya, tepatnya di kawasan Wiyung, Surabaya Barat. Waktu itu saya masih kelas 3 sekolah dasar di Kota Malang.

Banjir identik dengan dampak dari hujan deras yang turun. Banjir selalu diikuti dengan lalu lintas yang tidak normal di kawasan itu. Bila banjirnya melebihi lutut orang dewasa, maka banyaknya sepeda motor dan mobil mogok menjadi pemandangan umum yang terjadi. Banjir juga bisa berakibat pada pengungsian masyarakat dari tempat tinggal mereka yang terendam banjir. Bila terjadi pengungsian, maka banjir mengakibatkan susahnya mendapatkan makanan dan minuman yang layak.

Banyak hal yang menyebabkan banjir terjadi. Penyebab yang sering adalah banyaknya sampah non organik yang menyumbat saluran air. Saya sering melihat ibu-ibu rumah tangga yang membuang sampahnya langsung ke selokan atau sungai di sekitar rumahnya. Diantara mereka berpendapat membuang sampah langsung ke sungai atau selokan adalah cara praktis dan mudah dilakukan tanpa memikirkan dampak yang sangat mungkin diakibatkan.

Penyebab lain terjadinya banjir adalah sistem drainase saluran air yang banyak diterapkan di pemukiman di Indonesia. Selama ini, hampir semua saluran air pembuangan dari dapur dan kamar mandi di rumah-rumah langsung menuju ke selokan atau sungai tanpa disaring atau diolah lebih dahulu. Akibatnya, sampah-sampah organik sisa dapur seperti butiran nasi atau sisa sayuran sering terbawa hanyut ke saluran air saat mencuci peralatan dapur. Padahal, salah satu ciri sampah organik itu, bila beberapa minggu terendam di saluran air, maka akan menjadi tanah endapan. Dalam jumlah banyak, tanah endapan di saluran air ini akan mengurangi daya tampung di selokan itu.

Penyebab utama terjadinya banjir adalah minimnya jumlah pepohonan pelindung yang tumbuh di daerah terjadinya banjir. Minimnya lahan hijau terbuka sebagai daerah resapan air hujan juga menjadi penyebab utama terjadinya banjir ini. Maklum, sudah menjadi fenomena umum bahwa di hampir seluruh kota semakin susah ditemui lahan kosong. Yang ada, lahan-lahan kosong yang sebelumnya menjadi daerah resapan air sering berubah menjadi bangunan rumah atau perkantoran.

Tentang cara mencegah banjir, memperbanyak menanam pepohonan pelindung menjadi langkah utama yang bisa dan harus dilakukan. Seperti yang Minggu lalu saya dan 28 finalis pangeran dan puteri lingkungan hidup 2009 Malang raya lakukan saat karantina. Saat itu, kami menanam bibit pohon di lahan kritis di Kota Batu bersama ketua tim penggerak PKK Kota Batu yang juga istri wali Kota Batu. Pemanfaatan lahan kosong di sekitar untuk pepohonan menjadi suatu keharusan. Bila tidak ada lahan kosong, maka media pot bisa menjadi alternatif. (*/ron)

*)  Puteri Lingkungan Hidup 2009 Malang Raya Cherissa Wahyu Pramais adalah siswa SMP Negeri 3 Kota Malang

 

25 April 2010, Puteri Lingkungan Hidup 2009 Alya Thalafadhilla: Asyiknya Eco Wisata Ke Pulau Sumbawa

19 Januari 2010, Finalis Puteri Lingkungan Hidup 2008 Malang Raya Mierna P: Pohon dan Hidup Kita

30 Desember 2009, Pangeran Lingkungan Hidup 2009 Malang Raya M. Assadin Nur: Sebelum Ikut PangPut, Sering Berperilaku Tidak Ramah Lingkungan

18 Desember 2009, Puteri LH 2009 Malang Raya Cherissa Wahyu Pramais: Banjir Sering Disebabkan Sampah Yang Menyumbat Saluran Air

2 Desember 2009, Runner up I Pangeran Lingkungan Hidup 2008 Malang Raya Oryza Adhitya Wardana: Kekurangan Air Bersih, Masyarakat Belanda Harus Menyaring Air Laut Yang Biayanya Sangat Mahal dan Prosesnya Sangat Lama

11 November 2009,  Firsttolia L.Y. Sugianto, Runner Up Puteri LH 2008 Malang Raya: Pernah Dipanggil Puteri Indonesia. Pernah Juga Malu Karena Tidak Tahu Nama Bunga

3 November 2009,  Pangeran Lingkungan Hidup Malang Raya 2008  M. Dakita Zulfikar:  Pengalaman Asyik Mengikuti Pangput LH 2008 se-Malang Raya

6 Oktober 2009, Runner Up II Puteri Lingkungan Hidup 2008 Malang Raya Mumtaza Noor Ashila: Asyiknya Bercocok Tanam Organik Bagi Tubuh Manusia dan Bumi

22 September 2009, Finalis Puteri Lingkungan Hidup 2009 Monica Andreas: Batasi Penggunaan Pendingin Ruangan di Rumah

15 September 2009, Runner Up IV Puteri Lingkungan Hidup 2009 Claudia Alicia Buditanoyo: Muara Sungai Wonorejo Dengan Banyak Spesies Burung Dan Sampah Non Organik

8 September 2009, Finalis Puteri Lingkungan Hidup 2009 Faradila Rizky Amalian: Ikut Mencegah Pemanasan Global Dengan Selalu Membawa Bekal Makanan Dari Rumah

1 September 2009, Puteri Lingkungan Hidup 2008 Malang Raya Kurnia Kusuma Syafitri: Sampah, Harta Karun Yang Terbuang

25 Agustus 2009, Runner Up III Puteri Lingkungan Hidup 2009 Salshabia Azura Hemat Air, Terbiasa Sikat Gigi Dengan Air Satu Gelas

20 Agustus 2009, Runner Up II Pangeran Lingkungan Hidup 2009 Gefari Perwira Zikrian: Langsung Pusing Bila Terkena Asap Rokok

12 Agustus 2009, Runner Up II Puteri Lingkungan Hidup 2009 Dania Shofi Maziyah: Hemat Listrik dan Transportasi Sangat Penting

4 Agustus 2009, Runner Up Pangeran Lingkungan Hidup 2009 Firman Syarifudin Saputra: Bangga Ikut Mempercantik Terminal Joyoboyo Pada Kampanye Udara

1 Juli 2009, Runner Up Puteri Lingkungan Hidup 2009 Nyimas Salsabila Rahma Indah Zahra Dengan Impian Lingkungan Untuk Surabaya

22 Juni 2009, Pangeran Lingkungan Hidup 2009 M. Gunawan Wibisono Dan Asyiknya Ikut PangPut

15 Juni 2009, Puteri Lingkungan Hidup 2009 Alya Thallafadhila Dan Rencana Family Tree Planting