30 Desember 2009
Pangeran Lingkungan Hidup 2009
Malang Raya M. Assadin Nur:
Sebelum Ikut PangPut, Sering
Berperilaku Tidak Ramah Lingkungan
Senang, haru, dan bangga. Itulah
perasaanku setelah dinobatkan
sebagai Pangeran Lingkungan Hidup
Malang Raya 2009. Saat selempang
dipasangkan ke tubuhku, saya
terkejut sekaligus bahagia. Saya tak
menyangka, tugas berat dari M.
Dakita Zulfikar, Pangeran Lingkungan
Hidup 2008 Malang Raya, akan
berlanjut kepadaku. Bersama Puteri
Lingkungan Hidup 2009, Charissa
Wahyu, saya akan mengemban tugas
mulia untuk menyelamatkan Bumi ini,
hingga satu tahun ke depan. Tentunya
dengan kegiatan-kegiatan nyata dan
sederhana.
Saya
mau bercerita sedikit tentang
pengalaman mengikuti penganugerahan
ini. Sebagai seorang peserta, tentu
saja saya memiliki suatu proyek
lingkungan hidup. Saya memilih
proyek pemanfaatan limbah kertas
menjadi barang yang bernilai guna.
Contohnya, koran bekas atau kertas
bekas coret-coretan bisa diolah
menjadi wadah kertas. Juga bisa
disulap menjadi topeng Bapang
(topeng malangan). Menarik, kan!
Project inilah yang saya tunjukkan
kepada peserta lain pada saat
seleksi tahap I lalu.
Menurut orang lain, dari cara bicara
dan pembawaan diriku, Dino – begitu
orang lain biasa memanggilku, mereka
menganggap saya sebagai sosok yang
pintar dan cakap. Jadi, mereka tak
heran jika saya tidak terlalu banyak
mengalami kendala saat mengikuti
beberapa tahap seleksi. Hanya saja
pada saat seleksi tahap I, yaitu tes
tulis dan presentasi, saya mengalami
sedikit kendala. Ternyata, pagi hari
sebelum saya mengikuti seleksi tahap
I tersebut, saya harus memeras otak
untuk mengikuti Olimpiade Fisika.
Wow! Jadi, saya harus membagi waktu
dan pikiran untuk mengikuti dua
perlombaan sekaligus dalam waktu
sehari. Meskipun sedikit kurang
maksimal dalam mengerjakan soal-soal
tes tulis, dan pada saat presentasi.
Tetapi untung saja saya berhasil
menyelesaikan semua tugas dengan
baik. Selebihnya, seleksi demi
seleksi saya jalani dengan lancar.
Mengikuti penganugerahan Pangput LH
Malang raya ini membuat saya banyak
mendapatkan pelajaran berharga. Saya
mendapat banyak pengetahuan yang
baru tentang lingkungan hidup.
Pengetahuan itu tentu saja tidak
cukup hanya dipelajari. Namun, juga
harus diterapkan di dalam kehidupan
sehari-hari. Sehingga ilmu tersebut
dapat bermanfaat untuk menangani
berbagai masalah lingkungan hidup di
sekitar kita.
Dengan saya terpilih menjadi seorang
Pangeran Lingkungan Hidup Malang
Raya 2009, tentu saja merupakan
kebanggan tersendiri bagi saya, juga
bagi sekolah tercinta, Madrasah
Tsanawiyah Negeri 1 Kota Malang.
Selain kebanggaan, ada beban berat
yang harus saya jalani. Beban itu
adalah menjadi tauladan atau contoh
bagi teman-teman, keluarga, maupun
orang lain di sekitar untuk
berperilaku ramah lingkungan hidup
sehari-hari.
Oh ya, sebelum mengikuti perlombaan
ini, saya masih berperilaku kurang
ramah lingkungan hidup. Diantaranya
saya masih suka bermain game
online hingga lupa waktu, sering
menggunakan pendingin ruangan yang
daya listriknya tinggi hingga lupa
mematikan, dan beberapa perbuatan
boros listrik lainnya. Tentu saja,
setelah ini, saya akan mengurangi
sikap buruk itu menjadi sikap ramah
lingkungan hidup.
Selain mendapat pengetahuan tentang
lingkungan hidup, saya juga mendapat
banyak teman-teman baru. Bersama 28
finalis lainnya, saya telah menjalin
hubungan kekeluargaan yang erat,
terutama pada saat karantina. Banyak
pengalaman yang mengesankan dan
kenangan manis terjadi pada saat
karantina di Wisma Coban Rondo, Kota
Batu. Kebersamaan itu tidak akan
berakhir sampai pada saat final.
Namun akan terus berlanjut pada saat
mengikuti berbagai kegiatan bersama
Tunas Hijau. Kami akan tergabung
dalam Paguyuban Pangeran dan Putri
Lingkungan Hidup Malang Raya 2009.
(dania/ron)