|
29 Maret 2009
Mozes Kilangin dan Bandara Internasional di
Timika
Bandara Internasional Mozes Kilangin di
Timika, Mimika, Papua nampak sangat modern
saat rombongan Tunas Hijau turun dari
pesawat Airfast dari rute terakhir
penerbangan Surabaya – Makasar – Timika,
Minggu (29/3). Kondisi bandara ini sangat
berbeda dari tahun 2006 akhir saat rombongan
Tunas Hijau kali pertama ke Timika. Pada
pertengahan 2008, menteri perhubungan
meresmikan Bandara Internasional Mozes
Kilangin di Timika. Ada prasasti berupa ban
haultruck pertambangan berdiameter
lebih 3 meter. Prasasti ini untuk
mengenang para pekerja dan ahli pertambangan
dari 22 negara yang telah berkontribusi
besar pada pertambangan tembaga dan emas PT.
Freeport Indonesia di Mimika, Papua.
Nama Mozes Kilangin begitu melekat di
kalangan masyarakat suku Amungme dataran
tinggi Mimika terutama di Bumi Amungsa.
Hingga tak heran kalau namanya diabadikan di
bandara Internasional Timika.
Dia memang
negosiator dan penunjuk jalan yang baik bagi
ekspedisi pertama Freeport di bumi Amungsa
pada 1960, tulis Forbes Wilson dalam bukunya
berjudul Conquest of the Copper Mountain.
Sejak Juli
sampai dengan September 1960, paitua (Bapak
Tua) Mozes Kilangin melakukan perjalanan
panjang mendampingi tim ekspedisi Freeport
yang mendaki Gunung Yelsegel Ongopsegel (Ertsberg).
Ekspedisi yang dipimpin oleh Forbes Wilson
ini menempuh rute Omoga menuju Belakama
terus ke Tsinga Jongkogama-Waa (Mile 68
sekarang)-Osekindi-Bayulkase (mile 74
sekarang). Begitulah keterlibatan Mozes
Kilangin Tenbak dalam ekspedisi Freeport
1960, walau sebenarnya kedatangannya ke
Akimuga sebagai guru.
Pada 9
Agustus 1999 penulis buku bertemu di
kediamannya, di kompleks Timika Indah dan
dia menceritakan bagaimana mereka berjalan
kaki ke gunung untuk membawa bahan-bahan
batu-batuan sebanyak 30 karung sebagai
contoh bagi penelitian. "Kini Freeport sudah
masuk dan semua orang dapat berkat, tetapi
ada juga yang tidak memperoleh apa-apa
tetapi tujuan kita agar masyarakat Amungme
memperoleh manfaat yang besar kalau tambang
dibuka," ujar Mozes Kilangin waktu itu.
Empat hari setelah pertemuan dengan penulis
tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1999, guru
Mozes kembali menghadap Sang Pencipta, atau
dalam bahasa Amungme disebut Jomun Somun
Nerek.
Mozes sangat
gigih memperjuangkan nasib masyarakatnya di
puncak gunung yang selalu diselimuti salju
abadi, waktu itu. Dalam tulisannya di
Majalah Triton Mart terbitan Hollandia (sekarang
Jayapura) 1958, Mozes Kilangin melukiskan
bagaimana keadaan sebenarnya di tempat
kelahirannya dengan judul, "Antero Masih
Gelap Pasang Lampu Lekas". Artinya bahwa
kondisi di wilayahnya masih sangat
memprihatinkan, tidak ada pendidikan dan
masyarakat menderita serta meminta perhatian
dari pemerintah Nederlands Nieuw Guinea (pemerintah
penjajah Belanda).
Dalam
lanjutan tulisannya Mozes Kilangin
menuturkan ada seorang masyarakatnya yang
berdiam di Gunung Salju bernama Sailing fam
Solme. Pada suatu hari Solme mengatakan, "Hai
guru, Engkau punya umur sama dengan saya (engkau
seusia dengan saya) tetapi engkau sudah
menjadi guru". Hal ini pula yang mendorong
guru Mozes sangat antusias untuk membangun
sekolah di daerah Amungme pada tahun 1955.
Niatnya kembali ke daerah asalnya menguat
sehingga dia menghadap pastor Cammerer untuk
pindah ke kampong halamannya. Usulannya
disetujui oleh Monseigneur Staverman, hingga
pada 1 September 1954, Mozes Kilangin
berangkat dari Epouto menuju Kokonao.
Selanjutnya mereka berjalan kaki lagi ke
Koperapoka. Satu bulan kemudian Mozes tiba
di Tsinga, tepatnya pada 1 Oktober 1954.
Selama empat bulan pertama guru Mozes
bekerja dengan penuh semangat di Lembah
Tsinga.
Ia memberi
petunjuk, membangun permukiman penduduk yang
sehat di tempat yang layak dihuni dan
mengumpulkan anak-anak untuk bersekolah.
Karena banyaknya murid yang ingin bersekolah,
sehingga Januari 1955, guru Mozes ke
Koperapoka menemui pastor untuk meminta
tambahan guru baru agar meringankan beban
kerjanya. Akhirnya permintaannya dikabulkan
dan Pastor Coenen mengirim dua guru bantu,
yakni Paulus Aika dan Johanes Aikawe.
Kemudian
pastor Coenen memberikan gambaran keadaan
Lembah Tsinga sebagai berikut: Mozes telah
memberikan penerangan yang baik sehingga
masyarakat mulai berkonsentrasi pada daerah
tertentu untuk memperoleh pelajaran agama
dan anak-anak mulai bersekolah. Amkayagama
menjadi ibukota di daerah Tsinga. Lapangan
terbang misi Katolik dibuka dan rumah-rumah
guru dibangun termasuk sekolah bagi
anak-anak suku Amungme.
Mozes telah
menjadi Musa bagi tempat kelahirannya, urai
Pastor Coenen. Dalam waktu singkat banyak
orang-orang Amungme menjadi pemeluk agama
Katolik. Walaupun saat itu terjadi
pergumulan yang mendalam tentang kepercayaan
asli suku Amungme yaitu antara Womkela dan
Hai (Sorga). Hal ini diperumit lagi dengan
perkawinan poligami, yaitu seorang pria
beristeri satu telah berjanji tidak akan
pergi berdoa selama orang yang berpoligami
tidak menceraikan isteri keduanya.
Pastor Coenen dan Guru Mozes merasa terdesak
untuk segera memutuskan atau jalan keluar
yang terbaik.
Walaupun dalam penegasannya mereka telah
menjelaskan bahwa perkawinan poligami jangan
terlalu cepat diputuskan dan biarlah
perjalanan waktu yang akan menentukan.
Bersama dengan Bestur Kokonao Arnold
Mampioper, mereka berdua melakukan persiapan
proyek Akimuga pada 1958. Distrik Akimuga
merupakan daerah dataran rendah yang sangat
cocok bagi permukiman suku Amungme yang
masih tinggal di Lembah Tsinga dekat gunung
bersalju. Tahap pertama Guru Mozes
memerintahkan 10 orang pemuda dari setiap
marga (fam) untuk berangkat ke Akimuga.
Tujuan keberangkatan mereka adalah untuk
membuka kebun-kebun bagi kepentingan marga
termasuk para pemuda. Jika hasil kebun sudah
dipanen maka klen atau fam yang lainnya bisa
menyusul.
Memindahkan penduduk dari daerah asal ke
tempat yang baru bukan persoalan yang mudah
hingga masyarakat mengusulkan pindah saja ke
Belamakama dengan beberapa argumentasi
antara lain:
1.
Kami hendak pergi mengikuti jaman
baru, di sini masih hidup keadaan yang lama,
seperti perang dan harta perang.
2.
Kami hendak membuat daerah peralihan
menuju ke Akimuga.
3.
Kayu dan atap untuk membangun rumah
telah habis di sini, maka gereja dan sekolah
tidak akan kami perbaiki.
4.
Kesuburan tanah di sekeliling kampung
telah berkurang.
Masalah ini membuat Bestur Arnold Mampioper
tak mampu berbuat banyak dan hanya
mengingatkan bahwa masyarakat jangan menetap
selamanya di Belamakama, sebab dokter dan
pemerintah tak dapat membantu di sana.
Buatlah kebun dan berusaha agar memperoleh
bibit tanaman di Akimuga, tetapi jangan
tinggal di sana. Pasalnya kalau terlalu
cepat pindah ke daerah yang lebih rendah
akan membawa banyak korban. Walaupun terjadi
banyak pertentangan dalam permukiman baru di
Akimuga tetapi akhirnya semua warga mau
dipindahkan dan tinggal menetap di sana.
Mantan
Bestur Kokonao Arnold Mampioper dalam
bukunya berjudul Amungme Manusia Utama dari
Nemangkawi Pegunungan Cartensz, 2000,
mengakui peran Guru Mozes Kilangin Tenbak
dalam ekspedisi Freeport 1960 dan juga
pembukaan permukiman warga suku Amungme di
wilayah Distrik Akimuga dan sekitarnya
termasuk misi Katolik di sana. Mozes
Killangin atau nama lengkapnya Mozes Abraham
Kalmalan Kilangin Tenbak, lahir di Unganarki
di daerah Diloa Lembah Besar sekitar tahun
1925 dan meninggal di Timika pada 14 Agustus
1999.
Untuk
mengenang jasanya, perusahaan tambang
raksasa yang berpusat di New Orleans,
Amerika Serikat, Bandara Internasional di
Timika diberi nama Mozes Kilangin sebagai
bentuk penghargaan kepadanya. (*) |