|
1 Juli 2009
Melakukan Pengolahan Sampah Daun di Hutan
SMPN 16 Surabaya
SMP
Negeri 16 Surabaya mendapat suntikan
motivasi untuk melanjutkan program
lingkungan hidup di sekolahnya, Rabu (1/7).
Di saat liburan sekolah seperti ini, sekolah
yang berlokasi di Mastrip Bogangin Surabaya
ini kedatangan tamu empat orang pemuda cewek
dari empat negara. Keempat pemuda itu adalah
simpatisan Tunas Hijau. Mereka adalah
Pasquella van der Jagt dari Belanda, Sun Yi
Feng atau biasa dipanggil Ivone dari China,
Li Dan Dan dari Hongkong, dan Mandy Lim Pei
Mun dari Malaysia. Keempat simpatisan Tunas
Hijau itu didampingi aktivis senior Tunas
Hijau Mochamad Zamroni dan Afif Amrullah.
Keempat
pemuda simpatisan Tunas Hijau itu sempat
kagum dengan keadaan sekolah dipenuhi dengan
tanaman Sansivera atau juga dikenal tanaman
lidah mertua. Tanaman Sansivera ini tidak
hanya banyak ditanam di taman-taman sekolah,
namun juga banyak ditanam di pot-potan yang
juga banyak ditempatkan di setiap sudut
sekolah. Maklum, tanaman Sansivera sudah
sejak dua tahun lalu dijadikan sebagai
maskot SMP Negeri 16 Surabaya. “Tanaman
Sansivera merupakan maskot SMP Negeri 16
Surabaya,” kata guru koordinator lingkungan
hidup SMP Negeri 16 Surabaya Karina
Trimawati.
Dijelaskan
Karina bahwa pemilihan tanaman Sansivera
dikarenakan bentuk tanaman ini yang unik.
Tanaman ini berbeda dengan tanaman
kebanyakan yang memiliki daun dan ranting
atau batang yang berbeda. Daun dan batang
tanaman ini sama, karena tanaman ini hanya
memiliki daun yang yang juga berfungsi
sebagai batang. Namun, pembiakan tanaman
sangat mudah. Bisa dengan stek atau potong
daun, tunas atau pembelahan. Tanaman ini
juga dapat tumbuh di dalam ruangan yang
tidak mendapat sinar matahari sama sekali,”
kata Karina.
Sementara
itu, di Hutan Sekolah SMP Negeri 16
Surabaya, Tunas Hijau mengajak keempat
pemuda simpatisan Tunas Hijau dari luar
negeri untuk mengolah sampah dedaunan yang
lama menumpuk di dalam tong komposter.
Keempat pemuda dan beberapa anggota tim LH
SMPN 16 Surabaya lantas bersama-sama
menuangkan semua sampah dedaunan yang ada di
dalam tong tersebut. “Secara berkala setiap
minggu sekali, sebaiknya isi tong komposter
ini sebaiknya dikeluarkan semua. Sampah
dedaunan yang berada di bagian atas lantas
dipindah di bagian dalam. Demikian juga
sebaliknya sampah dedaunan yang berada di
bawah dipindah ke bagian atas,” kata aktivis
senior Tunas Hijau Zamroni.
Disampaikan Zamroni bahwa pemindahan sampah
itu berfungsi untuk membantu proses
penghancuran sampah dedaunan. “Jangan lupa
menyiramkan air secukupnya pada sampah
dedaunan itu bila kondisinya nampak kering.
Ini diperlukan untuk menjaga proses
penguraian tetap berlangsung, karena proses
penguraian sampah dedaunan akan lambat
bahkan berhenti bila kondisi dedaunannya
kering,” kata Zamroni sambil meminta
anak-anak dan pemuda itu mengumpulkan
dedaunan kering yang berguguran di lokasi
hutan SMP Negeri 16 Surabaya. (*) |