|
8
September 2009
Duo
Aktivis
Srikandi
Tunas Hijau di
Konservasi
Hutan
Dataran
Tinggi
Triani Candra Kusuma Dewi dan Reby Dwi
Prataopu
adalah
dua nama
yang
mungkin terdengar asing. Tapi di markas
dataran tinggi Tunas Hijau, dua nama ini
sangat
dikenal
anak-anak. Berbagai aktifitas pelestarian
lingkungan
hidup
dilakukan oleh duo aktifis
Srikandi
Tunas Hijau Ini, terutama
dalam hal pendidikan konservasi hutan dan
sumber air di wilayah kec. Pacet, Kab.
Mojokerto
Triani
Candra Kusuma Dewi yang akrab dipanggil
Candra ini menekuni bidang pendidikan dasar.
Saat
ini Candra menjadi pengajar kelas I SDN
Kemiri II
di Kecamatan Pacet, Mojokerto.
Kiprah dara berkacamata di dunia pelestarian
lingkungan
hidup
diawali ketika dirinya ditugaskan
mendampingi kegiatan lingkungan yang
diselenggarakan Tunas Hijau di SDN Kemiri II
pertengahan 2008 lalu. Sejak saat itulah
dirinya mengaku tertarik untuk melakukan
berbagai aktifitas pelestarian lingkungan
hidup.
Berbagai kegiatan lingkungan yang
diselenggarakan Tunas Hijau pernah diikuti
aktivis yang satu ini.
Salah
satunya adalah menjadi pendamping delegasi
Pacet
pada
Mini Conference
on
Climate Change yang diselenggarakan di
Sekolah Ciputra,
8 Desember 2008.
Selain mengajar,
Triani Candara juga mengelola Rumah Baca
Sampoerno, satu-satunya rumah baca untuk
anak-anak di Kecamatan
Gondang,
Mojokerto.
Dengan berbagai pengalaman kegiatan-kegiatan
lingkungan
hidup
inilah,
Candra mencoba untuk menerapkan pendidikan
lingkungan hidup di Rumah
Baca
Sampoerno yang dikelolanya. Secara berkala
bersama aktivis Tunas Hijau lainnya, Candra
menggelar berbagai kegiatan lingkungan
hidup
untuk mengisi aktifitas di Rumah Baca
Sampoerno.
Diungkapkan
Candra bahwa kegiatan-kegiatan lingkungan
hidup
ini membawa banyak manfaat bagi adik-adiknya
di Rumah
Baca
Sampoerno. Misalnya, adik didiknya di Rumah
Baca Sampoerno kini terbiasa memilah sampah
dan mengolah sampah organik menjadi pupuk
kompos, satu kebiasaan yang belum ada
sebelumnya.
Berbeda
dengan Candra, Reby Dwi Prataopu lebih
dahulu mengawali aktifitas pelestarian
lingkungan
hidup
bersama Tunas Hijau. Dara yang akrab disapa
Reby ini mengaku mengawali aktifitas
lingkungan
hidup
semenjak akhir tahun 2006. Perkenalannya
dengan Tunas
Hijau diawali dalam kegiatan kepramukaan,
yang
waktu itu beberapa aktifis Tunas Hijau
berbagi pengalaman pada kegiatan Diklat Saka
Wabahakti Pacet
Angkatan
II.
Melalui
diklat inilah remaja yang aktif sebagai
sekretaris Saka Wanabakti
Pacet
berpikiran bahwa seharusnya Saka Wanabakti
dapat berbuat lebih untuk masyarakat. Tidak
hanya belajar tentang pelestarian hutan,
tetapi juga dapat menerapkan dalam bentuk
edukasi terhadap masyarakat. Berawal dari
pemikiran inilah, Saka Wanabakti mengawali
langkah baru dengan memberikan
penyuluhan-penyuluhan lingkungan hidup di
sekolah-sekolah dataran tinggi yang
berbatasan langsung dengan hutan lindung di
wilayah
Kecamatan
Pacet.
Sejak awal kiprahnya di Tunas Hijau, aktivis
yang saat ini menyelesaikan study
di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah
terlibat banyak kegiatan pelestarian
lingkungan
hidup.
Kegiatan internasional seperti Children
Coference on Climate Change (CCCC) dan Asia
Pacific Inter Faith Youth Camp yang
diselenggrakan Tunas Hijau beberapa waktu
lalu tidak luput dari keterlibatannya. Pada
program
tersebut Reby dengan Saka wanabakti yang
dikelolanya, menjadi kordinator untuk
kegiatan Fieltrip Hutan dan sumber
air.
Lewat kegiatan lingkungan
hidup
inilah dua aktivis
Srikandi
Tunas Hijau ini
berkenalan pada Oktober 2008 lalu. Berbagai
kegiatan lingkungan hidup yang dilaksanakan
di Mligi, berbuah dengan kesamaan misi dan
visi tentang pelestarian lingkungan
hidup.
Sanggar
Bolas
di markas dataran tinggi Tunas Hijau di
Dusun Mligi,
dusun binaan Tunas Hijau,
adalah satu dari sekian banyak ide kreatif
aktivis-aktivis Tunas Hijau, dimana peran
duo aktivis
Srikandi
Tunas Hijau ini memegang peran penting
terlaksanya ide tersebut.
(geng) |