Headquarters: Semolowaru Indah T-9, Surabaya - 60119, Indonesia. Phone/Fax: +62-31- 5996816, Email: info@tunashijau.org

ProgramGaleri FotoGaleri PosterGaleri KomikGaleri LaguPenerbitanSekolah HijauProfilFakta & Info
 

8 September 2009

Duo Aktivis “Srikandi” Tunas Hijau di Konservasi Hutan Dataran Tinggi

Triani Candra Kusuma Dewi dan Reby Dwi Prataopu adalah dua nama yang mungkin terdengar asing. Tapi di markas dataran tinggi Tunas Hijau, dua nama ini sangat dikenal anak-anak. Berbagai aktifitas pelestarian lingkungan hidup dilakukan oleh duo aktifis “Srikandi” Tunas Hijau Ini, terutama dalam hal pendidikan konservasi hutan dan sumber air di wilayah kec. Pacet, Kab. Mojokerto

Triani Candra Kusuma Dewi yang akrab dipanggil Candra ini menekuni bidang pendidikan dasar. Saat ini Candra menjadi pengajar kelas I SDN Kemiri II di Kecamatan Pacet, Mojokerto. Kiprah dara berkacamata di dunia pelestarian lingkungan hidup diawali ketika dirinya ditugaskan mendampingi kegiatan lingkungan yang diselenggarakan Tunas Hijau di SDN Kemiri II pertengahan 2008 lalu. Sejak saat itulah dirinya mengaku tertarik untuk melakukan berbagai aktifitas pelestarian lingkungan hidup.

Berbagai kegiatan lingkungan yang diselenggarakan Tunas Hijau pernah diikuti aktivis yang satu ini. Salah satunya adalah menjadi pendamping delegasi Pacet pada Mini Conference on Climate Change yang diselenggarakan di Sekolah Ciputra, 8 Desember 2008.

Selain mengajar, Triani Candara juga mengelola Rumah Baca Sampoerno, satu-satunya rumah baca untuk anak-anak di Kecamatan Gondang, Mojokerto. Dengan berbagai pengalaman kegiatan-kegiatan lingkungan hidup inilah, Candra mencoba untuk menerapkan pendidikan lingkungan hidup di Rumah Baca Sampoerno yang dikelolanya. Secara berkala bersama aktivis Tunas Hijau lainnya, Candra menggelar berbagai kegiatan lingkungan hidup untuk mengisi aktifitas di Rumah Baca Sampoerno.

Diungkapkan Candra bahwa kegiatan-kegiatan lingkungan hidup ini membawa banyak manfaat bagi adik-adiknya di Rumah Baca Sampoerno. Misalnya, adik didiknya di Rumah Baca Sampoerno kini terbiasa memilah sampah dan mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos, satu kebiasaan yang belum ada sebelumnya.

Berbeda dengan Candra, Reby Dwi Prataopu lebih dahulu mengawali aktifitas pelestarian lingkungan hidup bersama Tunas Hijau. Dara yang akrab disapa Reby ini mengaku mengawali aktifitas lingkungan hidup semenjak akhir tahun 2006. Perkenalannya dengan Tunas Hijau diawali dalam kegiatan kepramukaan, yang waktu itu beberapa aktifis Tunas Hijau berbagi pengalaman pada kegiatan Diklat Saka Wabahakti Pacet Angkatan II.

Melalui diklat inilah remaja yang aktif sebagai sekretaris Saka Wanabakti Pacet berpikiran bahwa seharusnya Saka Wanabakti dapat berbuat lebih untuk masyarakat. Tidak hanya belajar tentang pelestarian hutan, tetapi juga dapat menerapkan dalam bentuk edukasi terhadap masyarakat. Berawal dari pemikiran inilah, Saka Wanabakti mengawali langkah baru dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan lingkungan hidup di sekolah-sekolah dataran tinggi yang berbatasan langsung dengan hutan lindung di wilayah Kecamatan Pacet.

Sejak awal kiprahnya di Tunas Hijau, aktivis yang saat ini menyelesaikan study di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) telah terlibat banyak kegiatan pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan internasional seperti Children Coference on Climate Change (CCCC) dan Asia Pacific Inter Faith Youth Camp yang diselenggrakan Tunas Hijau beberapa waktu lalu tidak luput dari keterlibatannya. Pada program tersebut Reby dengan Saka wanabakti yang dikelolanya, menjadi kordinator untuk kegiatan Fieltrip Hutan dan sumber air.

Lewat kegiatan lingkungan hidup inilah dua aktivis “Srikandi” Tunas Hijau ini berkenalan pada Oktober 2008 lalu. Berbagai kegiatan lingkungan hidup yang dilaksanakan di Mligi, berbuah dengan kesamaan misi dan visi tentang pelestarian lingkungan hidup. “Sanggar Bolas” di markas dataran tinggi Tunas Hijau di Dusun Mligi, dusun  binaan Tunas Hijau, adalah satu dari sekian banyak ide kreatif aktivis-aktivis Tunas Hijau, dimana  peran duo aktivis “Srikandi” Tunas Hijau ini memegang peran penting terlaksanya ide tersebut. (geng)

7 Mei 2010, Guru Koordinator LH SDN Kandangan III Surabaya Siti Fatonah: Pemilahan Sampah Harus Disertai Penyediaan Tempat Sampah Yang Memadai Dan Sosialisasi

24 Maret 2010, Kepala Sekolah SMA/SMK Berprestasi Se Jawa Timur 2008 Kumudawati: Belum Meratanya Pendidikan Lingkungan Hidup di Setiap Kota/Kabupaten

2 Desember 2009, Kepala SMA Negeri 5 Jember Husnawiyah: Sibuk Membuat Replikasi Sekolah Ramah Lingkungan Hidup Di Jember

12 November 2009,  Wali Kota Surabaya Peduli LH Drs. Bambang Dwi Hartono, M.Pd. Yang Guru Matematika: Guru Harus Ing Ngarso Sing Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Dan Tut Wuri Handayani Pada Kepedulian Lingkungan Hidup

22 September 2009, Ir. Gunawan, Guru Pembimbing Di Balik Keberhasilan Siswa Menjuarai Berbagai Penelitian Internasional: Memulai Penelitian Lingkungan Hidup Butuh Cara, Waktu, Pendukung Dan Orang Yang Tepat

15 September 2009, Kepala SDN Petemon 13 Surabaya Harsoyo: Susah, Buat Muatan Lokal Lingkungan Hidup Sendiri Untuk SD Negeri

8 September 2009, Duo Aktivis “Srikandi” Tunas Hijau di Konservasi Hutan Dataran Tinggi Triani Candra Kusuma Dewi dan Reby Dwi Prataopu

1 September 2009, Koordinator Green Education Al Muslim Intan Larasati: Dukungan Pemda Pada Program Sekolah Adiwiyata Harus Signifikan

25 Agustus 2009,  Guru Lingkungan Hidup SDK Santa Theresia I Surabaya Kristoforus Agus Pujianto: Program Sekolah Adiwiyata Tidak Semenarik Dulu