|
25 Februari
2009
SDN
Tulungrejo 4 Kota Batu Dengan Potensi
Kawasan Pegunungan Yang Belum Tergarap
Peninjauan Tim Evaluasi Adiwiyata Jawa Timur
Hawa
sejuk masih terasa pagi itu, Rabu (25/2), di
SDN Tulungrejo 4 Kota Batu. Padahal, jam saat
itu menunjukkan pukul 10.00 wib ketika tim
evaluasi Adiwiyata Jawa Timur meninjau
setiap sudut sekolah yang berada diantara
Gunung Panderman, Gunung Arjuno dan
Pegunungan Anjasmoro. Sepanjang mata
memandang jauh keluar sekolah, yang nampak
adalah barisan pegunungan itu.
SDN
Tulungrejo 4 Kota Batu tergolong sekolah
yang memiliki tanah tanpa bangunan yang
luas. Sebagian dari tanah itu, tepatnya 1600
meter persegi, telah dimanfaatkan untuk
kebun sekolah. Jenis tanaman yang ditanam di
kebun sekolah ini hampir selalu sejenis.
Saat ini tanaman yang ada adalah kentang.
Tanaman jenis lain yang pernah ditanam di
kebun sekolah adalah kubis, wortel, bawang
merah dan bawang putih.
Kebun
sekolah itu dijadikan sebagai sarana
pembelajaran lingkungan hidup oleh para
siswa. Dengan bimbingan guru, para siswa
dijadwalkan bercocok tanam sekali dalam
seminggu. Biasanya pada saat pelajaran
lingkungan hidup dan ilmu pengetahuan alam.
Aktivitas yang dilakukan di kebun sekolah
tidak bedanya dengan para petani di sawah.
Hanya intensitas mereka melakukannya yang
sedikit lebih jarang. Pun tidak ada
aktivitas penyiapan lahan yang layaknya
dilakukan petani yang kebanyakan orang
dewasa.
Ciri khas
Kota Batu yang identik dengan aneka tanaman
bunga cukup nampak di sekolah yang berada di
Jl. Raya Wonorejo, Dusun Wonorejo, Kecamatan
Batu ini. Ditambah banyak pepohonan
pelindung berukuran besar membuat segar
udara di sekitar sekolah. Adanya kolam ikan
di lapangan tengah sekolah menambah betah
tamu dari luar sekolah untuk berlama-lama
tinggal di sekolah. Demikian juga para siswa
yang merasa betah berlama-lama tinggal di
sekolah.
Berada
di daerah pegunungan dengan sarana pendukung
cukup memadai, seyogyanya sekolah ini
memiliki ciri khas yang tidak akan dimiliki
oleh sekolah lain. Namun, potensi yang ada
masih belum dikembangkan optimal.
Diantaranya karena belum ada pembatasan pola
konsumsi di sekolah ini. Memang, di sekolah
ini tidak nampak ada penjual makanan dan
minuman seperti layaknya sekolah di daerah
perkotaan. Namun, kantin sekolah masih
menjual makanan dan minuman berbungkus
plastik. Alhasil, sampah plastik mudah
ditemukan di sekolah.
Pemilahan
sampah di sekolah ini juga masih belum
optimal. Warga sekolah masih membuang
sampahnya tanpa memperhatikan jenis sampah
organik atau non organik. Pesan-pesan
lingkungan hidup juga masih kurang di luar
dan di dalam ruangan kelas. Sementara itu,
pengolahan sampah organik ternyata malah
menerapkan cara seperti di daerah perkotaan
yang sedikit tanah, yaitu dengan menggunakan
tong komposter. Mestinya pengolahan sampah
organik yang dilakukan adalah dengan
memanfaatkan lahan tanah yang luas itu. Bisa
dengan membuat kubangan tanah atau
sumur-sumur biopori.
Isu-isu lokal yang sering dijumpai di Kota
Batu juga belum diajarkan pada pembelajaran
lingkungan hidup di sekolah. Isu-isu lokal
tersebut diantaranya seringnya longsoran
kecil di lereng-lereng pengunungan di
sekitar sekolah. Ada maraknya penggunaan
pupuk kimia daripada penggunaan pupuk kompos
atau pupuk alami yang belum dijadikan isu
lokal. Ada banyak berkurangnya sumber mata
air di kecamatan setempat yang konon
mencapai 57 mata air, yang juga belum
dijadikan isu pembelajaran di sekolah.
(roni) |