|
30 Maret 2009
Sekolah
YPJ Kuala Kencana, Papua Yang Harus Segera
Peduli Lingkungan Hidup
Berdiri
sejak tahun 1996, Sekolah Yayasan Pendidikan
Jayawijaya (YPJ) Kuala Kencana, Mimika,
Papua terus mengalami peningkatan jumlah
siswa dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009,
jumlah siswa mencapai 1.150 atau lebih
banyak 10 % dari tahun 2008 yang berjumlah
sekitar 1.020 siswa. Peningkatan jumlah
siswa tersebut juga berimbas pada jumlah
ruang kelas yang setiap tahunnya harus
ditambah untuk mengimbangi jumlah siswa yang
terus naik. Tentunya perbaikan fasilitas
lainnya seperti kantin untuk siswa juga
harus terus diperhatikan.
Dengan
semakin banyaknya jumlah siswa yang berminat
menuntut ilmu di SD atau SMP YPJ Kuala
Kencana tentunya menuntut YPJ Kuala Kencana
untuk senantiasa meningkatkan mutu kurikulum
pendidikan mereka dari tahun ke tahun.
Sebagai contoh upaya yang telah dilakukan
oleh YPJ Kuala Kencana untuk meningkatkan
kualitas pendidikannya adalah dengan menjadi
anggota ANPS (Associations National Plus
Schools). Tentunya keikutsertaan pada ANPS
ini berdampak positif bagi kualitas pelajar
YPJ Kuala Kencana.
Namun,
Sekolah YPJ Kuala Kencana juga mengalami
beberapa masalah terutama yang berkaitan
kepedulian siswa pada lingkungan hidup di
sekolah. Ini seperti masih kurangnya
kesadaran siswa dalam hal membuang sampah
pada tempat yang sesuai.
Alhasil seringkali ditemukan sampah yang
berserakan di koridor-koridor kelas dan
taman-taman kelas.
Selain itu,
kurangnya kesadaran seluruh warga sekolah
dalam upaya penghematan energi listrik.
Terlihat hampir di seluruh ruangan YPJ Kuala
Kencana masih menyalakan lampu meskipun
sinar matahari yang masuk di setiap ruangan
cukup membuat terang.
Kesan
rimbun di sekitar sekolah nampak terasa. Ini
karena hutan berciri khas Papua nampak masih
alami di sekitar sekolah. Bahkan jungle
track atau jalur pejalan kaki telah
dibuat di sekitar sekolah. Jungle track
ini digunakan sekolah sebagai media
pendidikan lingkungan hidup pada para
siswanya untuk mengenal spesies tanaman yang
tumbuh di hutan. Ini bisa dilihat dari
banyaknya pepohonan di hutan yang sudah
diberi label nama spesiesnya. Namun, kesan
rimbun belum diimplementasikan di dalam
lingkungan sekolah.
Sehingga sekolah yang memiliki lahan seluas
2 hektar ini masih nampak silau dan panas.
Green
house
atau nursery yang terdapat di samping
sekolah juga nampak kokok berdiri. Aneka
tanaman dalam pot juga nampak banyak
terdapat di nursery ini. Jika melihat
aneka macam pot tanaman, maka bisa
disimpulkan bahwa sebagian besar tanaman
dalam pot itu adalah sumbangan dari para
siswa. Namun, pelibatan siswa pada perawatan
tanaman dalam nursery ini masih
nampak belum optimal.
Ini dilihat dari banyaknya tanaman yang layu
karena kekeringan kekurangan air.
Pengolahan
sampah juga belum dilakukan di sekolah ini.
Di kantin, yang menjadi tempat makan para
siswa dan menjadi sumber sampah organik
khususnya sisa makanan juga hanya terdapat
tempat sampah biasa. Semestinya, komposter
untuk mengolah sampah sampah sisa makanan
ditempatkan di kantin, yang langsung
sumbernya. Tempat sampah terpilah 3 jenis,
yaitu organik, kertas dan umum hanya ada di
satu tempat saja di sekolah. Itu pun
terkesan hanya simbolis, karena nantinya
juga akan dicampur lagi.
Beberapa
hal unik bisa ditemukan di YPJ Kuala
Kencana, salah satunya adalah kompos buatan
Trubus. Mengapa? Karena sebenarnya Sekolah
YPJ Kuala Kencana punya potensi untuk
mengolah sampah organik sisa makanan mereka.
Potensi yang dimaksud adalah banyaknya bahan
baku kompos yang dihasilkan di kantin
sekolah. Bahan baku itu adalah sisa makanan
para siswa. Bahan baku lainnya adalah sampah
dedaunan yang banyak terdapat di sekitar
sekolah. Maklum, di sekitar sekolah adalah
hutan dengan kerapatan tanaman yang tinggi.
(adetya/roni) |