14 Februari 2010
100 Siswa SMA se Surabaya Ikuti
Dua Hari
Pelatihan Lingkungan Hidup
Pemanasan
global dan dampaknya perubahan iklim
menjadi isu nomor satu abad ini. Isu
ini menjadi perhatian khusus
negara-negara di seluruh dunia.
Berbagai dampak dari pemanasan
global tersebut dapat dirasa saat
ini, contohnya semakin panasnya
udara yang saat ini dirasakan oleh
warga Surabaya khususnya pada saat
siang hari. Berbagai upayapun
dilakukan dalam mengkampanyekan isu
pemanasan global tersebut. Salah
satunya menjadikan isu tersebut
menjadi salah satu materi yang
diberikan pada saat pelatihan
lingkungan hidup bagi 100 pelajar
SMA se Surabaya, Sabtu-Minggu
(13-14/2).
Pelatihan ini digelar di PPLH
Seloliman, Trawas, Mojokerto. Selama
dua hari, seratus pelajar SMA dari
50 sekolah di Surabaya digembleng
untuk menjadi agen-agen penyelamat
lingkungan hidup untuk sekolah
maupun Kota Surabaya. Sebagian
peserta menyimpulkan bahwa kegiatan
ini sangat bermanfaat bagi mereka
karena lewat pelatihan ini mereka
mendapatkan tambahan pengetahuan
tentang lingkungan hidup dari
berbagai narasumber, diantaranya
Tunas Hijau.
Kegiatan tersebut diawali dengan
pembukaan yang digelar di ruang
sidang wali kota Surabaya. Pada sesi
tersebut, kepala Badan Lingkungan
Hidup Kota Surabaya Togar Arifin
Silaban berpesan untuk memanfaatkan
waktu pelatihan yang singkat dengan
menyerap segala informasi yang
disampaikan oleh para narasumber.
Sesaat setelah sesi pembukaan
tersebut selesai, seratus pelajar
yang sudah dibagi menjadi 4 kelompok
besar tersebut bergegas memasuki 2
bus yang siap mengantarkan mereka
menuju PPLH Seloliman, Mojokerto.
Sepanjang perjalanan yang terlihat
hanyalah ekspresi peserta yang penuh
tawa dan semangat tinggi.
Tepat
pukul 10.30 wib, bus yang membawa
rombongan peserta pelatihan tiba di
PPLH Seloliman, Mojokerto. Meskipun
perjalanan yang ditempuh lumayan
jauh, namun tidak nampak sedikitpun
rasa lelah yang muncul dari raut
muka peserta pelatihan. Bahkan
beberapa peserta terlihat berlari
tidak sabar ingin segera melihat
lokasi pelatihan. Sesampai di lokasi,
terlebih dahulu peserta mengikuti
sesi perkenalan dengan pemandu dari
PPLH.
Pelatihan 2 hari tersebut,
melibatkan beberapa narasumber yakni
dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Kota Surabaya tentang pengolahan
sampah, Dinas Pertanian Kota
Surabaya tentang pertanian organik,
Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya
tentang sumber-sumber kerusakan Ozon
dan sekolah ramah lingkungan hidup,
PPLH membahas tentang pendidikan
lingkungan hidup, Tunas Hijau
tentang upaya menghambat lajunya
perubahan iklim dan Wali Kota
Surabaya Bambang Dwi Hartono tentang
peran Pemerintah Kota Surabaya dalam
mengatasi permasalahan lingkungan
hidup.
Tunas Hijau dengan 5 aktivisnya
Akbar Wahyudono, Anggrian Permana,
Afif Amrullah, Narendra dan Adetya
Firmansyah mendapat kesempatan
menyampaikan materi pada sesi malam
hari, yakni setelah makan malam.
Pada kesempatan tersebut, Tunas
Hijau yang dimotori oleh Akbar
Wahyudo menjelaskan permasalahan
tentang pencemaran air. Menurut
Akbar Wahyudono, sumber pencemaran
air diantaranya adalah limbah rumah
tangga seperti deterjen, sisa
makanan dan juga pestisida pertanian.
Hal ini diperparah dengan
pabrik-pabrik yang dengan sengaja
membuang limbah cair sisa produksi
ke sungai tanpa diolah terlebih
dahulu.
Lain
lagi dengan materi yang disampaikan
oleh Anggrian Permana, aktivis Tunas
Hijau dari SMA Negeri 11 surabaya
tersebut menyampaikan permasalahan
seputar polusi udara. Berbagai
informasi dan fakta dikemukakan oleh
Anggrian di depan peserta pelatihan.
“Guna mencegah semakin banyaknya
polusi udara yang muncul akibat
aktifitas manusia, sudah seharusnya
kita mencegah hal itu. Caranya mudah,
diantaranya dengan mengurangi
penggunaan kendaraan bermotor dan
listrik. Penggunaan ini berdampak
pada pengeluaran emisi gas buang,”
jelas Anggrian.
Pada
akhir kegiatan, didiskusikan
komitmen peserta pelatihan tentang
rencana kegiatan lingkungan di
masing-masing sekolah. Salah satunya
membuat tim lingkungan di
masing-masing sekolah dengan membuat
program lingkungan yang mengarah
pada Sekolah Adiwiyata. “Kami
bertekad menambah jumlah Sekolah
Adiwiyata di Surabaya, kami akan
berusaha mewujudkan komitmen ini
meskipun tidak mudah,” ujar salah
satu peserta kegiatan.
(det)