|
18 Agustus 2007
Bazar Ramah
Lingkungan, Minum Pun Menggunakan Gelas Bambu
Bazar
sekolah tidak selalu identik dengan sampah non organik yang
banyak dihasilkan. Seperti di SMA Negeri 11
Surabaya, Sabtu (18/8), sampah non organik yang dihasilkan
pada bazar sekolah ini nyaris tidak ada. Maklum, setiap stan
penjual yang merupakan perwakilan kelas, diminta tidak
menjual makanan dan minuman dengan menggunakan kemasan non
organik. Fenomena ini nampak beda dari kebanyan bazar yang
seringkali diadakan.
Kepala Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup Kota Surabaya Togar Arifin
Silaban pun menyempatkan hadir menyaksikan kegiatan ini.
Menurut Togar, pendidikan peduli lingkungan hidup harus
diterapkan melalui kegiatan apa saja. ”Bisa dengan mengajak
siswa melakukan penanaman pohon untuk hutan sekolah. Bisa
juga dengan menerapkan peraturan yang berpihak pada
lingkungan hidup. Seperti pada peraturan pada bazar sekolah
ini,” kata Togar Arifin yang didampingi Kepala SMA Negeri 11
Surabaya Komari.
Togar juga
mengatakan bahwa lingkungan yang bersih dan hijau sudah
menjadi kebutuhan setiap sekolah. ”Suasana bersih dan hijau
bisa membantu siswa dalam proses belajar di sekolah.
Apalagi, sebenarnya ketentuan hidup bersih sudah diajarkan
pada setiap agama. Islam misalnya, mengharuskan umatnya
untuk berwudlu guna membersihkan diri sebelum sholat. Ajaran
agama ini harus diterapkan secara mendalam pada kehidupan
sehari-hari,” kata Togar pada tim lingkungan hidup dan
beberapa guru SMA Negeri 11 Surabaya sesaat setelah
berkeliling melihat kondisi sekolah.
Aktivis
senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni pun turut bangga pada
bazar ini. “Setiap ada kegiatan di sekolah ini, seperti
bersih-bersih dua minggu sebelumnya, baru satu jam kegiatan
berjalan sampah plastik sudah nampak berserakan dimana-mana.
Berbeda
dengan bazar yang diawali jalan sehat ini. Meskipun sudah
tiga jam berlangsung, sampah tidak banyak nampak. Sampah
yang dihasilkan nampak bisa dihitung dengan jari. Itu pun
dengan kebanyakan jenis sampah organik,” kata Zamroni pada
Togar Arifin.
Inisiatif dari
beberapa stan bazar juga patut diacungi jempol. Kelas XI IPS
2 misalnya. Stan kelas ini membuat inovasi dengan membuat
gelas air minum dari bambu untuk melayani pembeli. ”Kami
ingin menghadirkan suasana the real back to nature.
Makanya kami menghadirkan gelas bambu. Meskipun volume gelas
bambu yang kami buat ternyata tidak sama,” kata salah satu
siswa kelas XI IPS 2 Fitri Biyanti, yang juga penggerak tim
lingkungan hidup SMAN 11 Surabaya. Sementara itu di hampir
keseluruhan stan lainnya sudah tidak nampak penggunakan
plastik atau kertas minyak sekali pakai. Yang nampak adalah
penggunaan gelas dan daun pisang.
Selain
mengunjungi bazar sekolah ramah lingkungan hidup, yang
diselenggarakan bersama Klub Tunas Hijau dan AUTO 2000,
Kepala BPLH Kota Surabaya Togar juga menyempatkan menanam
beberapa bibit pohon. Bibit pohon yang ditanam Togar adalah
jenis sengon laut, nangka dan sukun. Bibit pohon itu didapat
dari Dinas Perikanan, Kelautan, Pertanian, Perkebunan dan
Kehutanan Kota Surabaya. (*) |