|
24 Februari 2008
Ajarkan Agama
Dengan Pelestarian Lingkungan Hidup
Anak-Anak Budha Dharma Indonesia Berkegiatan di Mligi
Ada
satu kegiatan yang berbeda di Dusun Mligi, dusun ”ramah
lingkungan hidup’ yang dikembangkan oleh Tunas Hijau bersama
Saka Wanabhakti BKPH Pacet. Kegiatan ini digelar untuk
Yayasan Budha Dharma Indonesia (BDI), yang diikuti dua belas
remaja, 22-24 Februari 2008. berbeda dengan
kegiatan-kegiatan yang pernah digelar sebelumnya, kegiatan
ini lebih ditekankan pada pengenalan hidup sederhana dengan
tetap ramah terhadap alam dan lingkungan hidup.
Dijelaskan oleh
Edmond, salah satu anggota senior BDI, bahwa kegiatan ini
bertujuan untuk menerapkan ajaran agama Budha yaitu tentang
kesederhanaan. ”Adik-adik kami ini tergolong anak-anak yang
manja. Pada akhirnya sikap manja ini membuat mereka tidak
peka terhadap masalah di sekitar mereka,” ungkap Edmond
tentang latar belakang peserta.
Selama
kegiatan, peserta diajak untuk memahami kehidupan sederhana
di pedesaan. Selama tiga hari dua malam peserta pun tidur di
rumah-rumah warga dan mengikuti segala kegiatan di keluarga
setempat. Berbagai cerita seru pun terdengar dari peserta
yang rata-rata masih duduk dibangku SMP ini.
Karina misalnya,
oleh keluarganya asuhnya diajak untuk melakukan pemupukan di
sawah yang saat itu ditanami wortel. ”Sempat kaget waktu
diajak untuk membawa dan menabur pupuk kandang yang berasal
dari kotoran sapi. Tapi setelah dijelaskan oleh orang tua
asuhku, akhirnya aku paham juga maksudnya. Kata orang tua
asuhku, kotoran sapi berguna untuk kesuburan wortel serta
ramah lingkungan hidup. Ini daripada menggunakan pupuk
kimia,” kata Karina.
Pada
pelaksanaan kegiatan hari kedua, seluruh peserta diajak
untuk melakukan observasi lingkungan. Peserta dibagi menjadi
kelompok-kelompok kecil. Mereka belajar tentang
keanekaragaman hayati hutan. Mereka juga mendiskusikan daya
dukung hutan terhadap kelangsungan hidup manusia. Salah satu
hal yang menarik adalah ketika diajak untuk melihat ke
sumber air alami. Di tempat ini dapat ditemui sumber air
’artesis’ yang keluar dari sela-sela akar dan bebatuan.
Ketika disuruh untuk meminum air tersebut mereka kompak
bersama menolaknya. Baru ketika melihat pemandu Tunas Hijau
dan Saka Wanabhakti BKPH Pacet minum, satu- persatu peserta
pun mengikuti untuk meminum air sumber tersebut. ”Rasa
airnya segar seperti air Aqua,” ungkap Adrian dengan heran.
Satu hal yang dapat diambil hikmahnya oleh para peserta
bahwa, keserderhanaan dan kebijaksanan pola hidup manusia
menjadi salah satu alasan untuk lingkungan hidup tetap
lestari. Tanpa itu semua seluruh sumberdaya alam mungkin
hanya cukup untuk satu generasi. (dab/ron) |