Headquarters: Semolowaru Indah T-9, Surabaya - 60119, Indonesia. Phone/Fax: +62-31- 5996816, Email: info@tunashijau.org

ProgramGaleri FotoGaleri PosterGaleri KomikGaleri LaguPenerbitanSekolah HijauProfilFakta & Info

 

24 Februari 2008

Ajarkan Agama Dengan Pelestarian Lingkungan Hidup

Anak-Anak Budha Dharma Indonesia Berkegiatan di Mligi

Ada satu kegiatan yang berbeda di Dusun Mligi, dusun ”ramah lingkungan hidup’ yang dikembangkan oleh Tunas Hijau bersama Saka Wanabhakti BKPH Pacet. Kegiatan ini  digelar untuk Yayasan Budha Dharma Indonesia (BDI), yang diikuti dua belas remaja, 22-24 Februari 2008. berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang pernah digelar sebelumnya, kegiatan ini lebih ditekankan pada pengenalan hidup sederhana dengan tetap ramah terhadap alam dan lingkungan hidup.

Dijelaskan oleh Edmond, salah satu anggota senior BDI, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menerapkan ajaran agama Budha yaitu tentang kesederhanaan. ”Adik-adik kami ini tergolong anak-anak yang manja. Pada akhirnya sikap manja ini membuat mereka tidak peka terhadap masalah di sekitar mereka,” ungkap Edmond tentang latar belakang peserta.

Selama kegiatan, peserta diajak untuk memahami kehidupan sederhana di pedesaan. Selama tiga hari dua malam peserta pun tidur di rumah-rumah warga dan mengikuti segala kegiatan di keluarga setempat. Berbagai cerita seru pun terdengar dari peserta yang rata-rata masih duduk dibangku SMP ini.

Karina misalnya, oleh keluarganya asuhnya diajak untuk melakukan pemupukan di sawah yang saat itu ditanami wortel. ”Sempat kaget waktu diajak untuk membawa dan menabur pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi. Tapi setelah dijelaskan oleh orang tua asuhku, akhirnya aku paham juga maksudnya. Kata orang tua asuhku, kotoran sapi berguna untuk kesuburan wortel serta ramah lingkungan hidup. Ini daripada menggunakan pupuk kimia,” kata Karina.

Pada pelaksanaan kegiatan hari kedua, seluruh peserta diajak untuk melakukan observasi lingkungan. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Mereka belajar tentang keanekaragaman hayati hutan. Mereka juga mendiskusikan daya dukung hutan terhadap kelangsungan hidup manusia. Salah satu hal yang menarik adalah ketika diajak untuk melihat ke sumber air alami. Di tempat ini dapat ditemui sumber air ’artesis’ yang keluar dari sela-sela akar dan bebatuan. Ketika disuruh untuk meminum air tersebut mereka kompak bersama menolaknya. Baru ketika melihat pemandu Tunas Hijau dan Saka Wanabhakti BKPH Pacet minum, satu- persatu peserta pun mengikuti untuk meminum air sumber tersebut. ”Rasa airnya segar seperti air Aqua,” ungkap Adrian dengan heran.

Satu hal yang dapat diambil hikmahnya oleh para peserta bahwa, keserderhanaan dan kebijaksanan pola hidup manusia menjadi salah satu alasan untuk lingkungan hidup tetap lestari. Tanpa itu semua seluruh sumberdaya alam mungkin hanya cukup untuk satu generasi. (dab/ron)