|
22 April 2005
Kampanye Proyek Lingkungan di Golden City Mal
Surabaya
Para finalis Pangeran & Putri
Lingkungan Hidup 2005 terbukti bisa berpikir orisinil. Tak
hanya mengenai ide-ide proyek lingkungan mereka, tetapi juga
tentang cara mengampanyekan proyek tersebut.
Lihat saja penampilan Nadya
Noor Azalia, yang membawakan proyek Sekolahku Istanaku. Siswa
SD Laboratorium Malang ini menggunakan boneka tangan sebagai
media presentasinya. Meski masih duduk di bangku Sekolah
Dasar, Nadya berani membawakan pengantar ceritanya dalam
bahasa Inggris.
Dongeng tentang anak-anak SD
yang membuang sampah sembarangan dibawakannya dengan menarik.
Dia juga memerankan tokoh boneka dirinya. Boneka Nadya inilah
yang kemudian memberikan pengertian kepada teman-temannya
untuk menjadikan lingkungan sekolah terasa nyaman.
Tampaknya, teknik ini memang
cukup efektif untuk mengampanyekan cinta lingkungan untuk anak
usia SD. Terbukti saat Nadya tampil, beberapa anak kecil
langsung merubung ke bibir panggung.
Donna Roslinasari, yang mencoba
menarik perhatian penonton dan dewan juri dengan jamu beras
kencur. Pembagian jamu secara cuma-cuma terbukti ampuh untuk
mendapatkan perhatian penonton. Dengan leluasa, siswi SMPN 1
Pandaan ini dapat menerangkan pentingnya Tanaman Obat Keluarga
(Toga).
Teknik serupa juga dijalankan
oleh Jane Ester Debora Anastasia Tampi, 14. Hanya saja siswi
SMPN 16 Surabaya ini lebih inovatif dalam mengolah
jamu-jamuannya. Ada jamu fruit punch yang terdiri
campuran jamu kunyit asam atau beras kencur dengan jus buah,
ada pula sinom coffee blend. ”Ini jamu tapi rasanya
bukan jamu, silahkan dicoba,” ujarnya sambil membagi-bagikan
jamu campurannya ini.
Menurut Ester, demikian
panggilan akrabnya, inovasi jamu-jamuan ini dilakukannya untuk
menghilangkan rasa getir dari bahan-bahan jamu. Dengan diolah
sedemikian rupa, jamu buatannya lebih dapat diterima oleh
semua kalangan umur. ”Anak-anak yang nggak doyan jamu pun jadi
mau karena rasanya ramai,” imbuhnya.
Untuk berksperimen, Ester
mengumpulkan resep-resep jamu di berbagai majalah. Dari
resep-resep ini dirinya menemukan satu resep baru. Dia juga
mencobakan beberapa Toga ini kepada anggota keluarganya
sendiri. Seperti daun pecut kuda untuk meredakan batuk, dan
daun tapak dara untuk menurunkan tekanan darah tinggi. ”Untuk
obat batuk aku coba sendiri, haislnya manjur. Tapi untuk yang
darah tinggi, kakek saya yang meminumnya,” lanjutnya.
Christina Sandi Tjandra juga
pintar mencuri perhatian pengunjung.
Tampil dengan proyek Saving the Sribombok
from Extinction, Christina benar-benar bisa menyedot
perhatian penonton. Dia membagikan beberapa kaus yang
tulisannya sama dengan proyek kampanyenya. ”Ayo dukung saya,
selamatkan Sribombok dari kepunahan,” teriaknya sambil
mengepalkan tangan ke atas.
Sementara itu, Marisa Tania yang mengusung
proyek Penyosialisasian Sumber Pencemar Kalimas juga tampil
tak kalah atraktif. Sebelum memulai orasinya, Marisa sempat
membacakan beberapa larik puisinya tentang sungai legendaries
itu. Tentu isinya adalah kesedihannya memandang kondisi
Kalimas. Saking terharunya, Marisa sampai menangis.
“Padahal, saya sudah
tahan-tahan agar tidak menangis,” kata siswi SMP Petra 5 ini.
Sedangkan I Dewa Putu Adhika
Happy juga tampil cukup bersemangat. Siswa SMP Petra 3 itu
membawakan proyek Pemanfaatan Getah Pisang menjadi Keripik.
Tak tanggung-tanggung, Adhika menawarkan kepada penonton untuk
menjadi penjual keripik pesanannya. ”Beberapa RT dan PKL sudah
memesan kripik saya,” kata siswa berkacamata ini.
Namun, tak semua finalis menggunakan pesona
untuk menarik perhatian penonton. M. Vardian Mahardika, malah
sengaja merobek presentasinya di hadapan para pengunjung.
”Memang saya tidak pandai membuat presentasi. Presentasi saya
jelek. Tapi saya benar-benar ingin melestarikan hutan bakau,”
ujarnya di hadapan para penonton. Ulahnya yang tak biasa ini
juga mampu mencuri perhatian penonton dan dewan juri. |