|
Semua Makanan
Dibungkus Dengan Daun Pisang
SD Santa Theresia
1 Surabaya, Sekolah Adiwiyata 2007
Jarum
jam menunjuk pukul 09.00 hari itu. Puluhan anak kelas lima
dan enam berhamburan ke luar kelas. Salah satu tempat yang
mereka tuju adalah kantin sekolah. Antrean panjang pun
terjadi di ruangan di lantai satu gedung sekolah itu.
Petugas kantin tampak kewalahan melayani pesanan bocah-bocah
cilik tersebut.
Setelah
mendapatkan makanan keinginanya, para siswa itu mengambil
minuman yang disajikan dalam gelas plastik.
Mereka lalu duduk
dan makan bersama di sebuah meja besar di samping kantin.
Dengan sigap anak-anak tersebut membuka bungkus-bungkus
makanan. Sejurus kemudian, mereka tampak lahap menyantap
jajanan yang disajikan dalam bungkus-bungkus daun pisang
itu.
Seakan tidak ada
yang janggal, anak-anak tersebut sangat lahap mantap. Dalam
hitungan menit, makanan serta minuman tersebut habis
disantap dan berpindah ke dalam perut masing-masing anak.
Selang beberapa
saat, mereka bangkit dari tempat duduk menuju keranjang
sampah tidak jauh dari meja besar tempat makan itu. Semua
daun pembungkus makanan tersebut mereka buang ke keranjang
sampah yang bertanda ’sampah organik’. Gelas minuman
tersebut mereka cuci di wastafel kantin dan diletakkan
kembali di rak di samping wastafel.
”Kami mengupayakan
semua yang ada di kantin bisa didaur ulang. Jika memang bisa
dipakai ulang, ya dicuci dan digunakan lagi,” kata Cornelius
Matius Djoko Wismono, guru koordinator kegiatan lingkungan
hidup SD Santa Theresia 1 Surabaya.
Kebiasaan baru di
sekolah itu, kata dia, dilakukan untuk mengurangi sampah
plastik yang menumpuk di lingkungan sekolah. Bahkan, volume
sampah plastik tersebut dulu jauh lebih besar daripada
sampah organik yang dihasilkan kantin.
Karena
itu, sejak Januari 2007, Kepala SD Santa Theresia 1 Lucia
Anna Kamsani menetapkan aturan baru bahwa semua jajanan dan
makanan yang dijual di kantin sekolah harus di bungkus daun.
Boleh daun pisang atau daun jati. Itu semua ditujukan untuk
mengurangi volume sampah plastik yang sulit dimusnahkan dan
diganti sampah organik yang mudah terurai.
Tak heran,
kemudian semua jajanan di kantin sekolah tersebut berselimut
dedaunan. Tidak hanya jajanan tradisional seperti lemper,
nogosari, lepet, getuk lindri dan nasi goreng, jajanan masa
kini seperti pangsit, donat, dan pizza yang biasanya
disajikan dengan wadah ’moderen’ pun harus dibungkus daun
pisang.
Minuman kemasan
yang ditempatkan dalam wadah sekali minum sejak Januari 2007
lalu dilarang dijualbelikan di kantin SD Santa Theresia 1
Surabaya. Begitu pula, minuman yang dibungkus kantong
plastik tidak boleh lagi disajikan untuk anak–anak. Minuman
yang boleh dijual adalah berkemasan gelas plastik yang bisa
dicuci dan dipakai ulang.
Perubahan drastis
itu tentu mengagetkan banyak pihak.
Bahkan, aturan
tersebut sempat dipertanyakan para penyuplai makanan serta
jajanan sekolah itu.
Aturan yang tidak
biasa itu dinilai terlalu berlebihan dan tidak praktis.
Apalagi, mereka harus mencari daun pisang dan
membersihkannya lebih dulu sebelum dipakai membungkus
jajanan yang disetorkan ke kantin sekolah. Beberapa
penyuplai pun sempat mogok, ogah menyuplai jajanan ke
sekolah tersebut.
“Harga daun pisang
di Surabaya relative lebih mahal, ketimbang bungkus makanan
dari plastik mika atau kertas cokelat. Ya kami sempat
berkeberatan atas aturan baru sekolah itu,” ujar salah
seorang penyuplai jajanan ke kantin SD Santa Theresia 1
Surabaya.
Lucia-
panggilan akrab Lucia Anna Kamsani – bisa memahami keberatan
para pedagang tersebut. Karena itu, dia kemudian berusaha
mencari solusi terbaik agar ide sekolah bebas dari sampah
plastik tersebut tetap berjalan.
Akhirnya, dia
mendapat strategi yang win–win solution. Dia
memperbolehkan menaikkan harga makanan yang dijual dikantin
atau mengurangi ukuran jajanan serta porsi makanan agar
sesuai harga produksi makanan tersebut. ”Dengan solusi itu,
mereka mau berjualan kembali,” ungkap wanita kelahiran Kota
Malang tersebut.
Penerapan aturan
makanan berbungkus daun itu sempat membuat murid–murid di
Jalan Residen Sudiman Surabaya tersebut bingung. Mereka
heran melihat semua makanan di kantin sekolahnya berganti
wajah. Beberapa diantara mereka pun perlu beradaptasi
terhadap rasa makanan yang dibungkus daun pisang atau daun
jati tersebut.
”Saat makan kali
pertama menggunakan daun pisang, rasanya agak aneh. Tapi
lama–kelamaan terbiasa kok,” ujar Felix Hari Santosa, murid
kelas empat.
Beberapa
siswa pun sempat mengeluhkan berkurangnya beberapa porsi
jajanan yang dijual di kantin. Sebab, ukuran jajanan serta
porsi makanan tidak sebesar saat masih dibungkus mika,
plastik atau kertas. ”Bentuknya lebih kecil. Nasinya pun
lebih sedikit. Tapi, masih kenyang kok,” ungkap Neria
Erlika, murid kelas empat lainnya.
Neria dan Felix
pernah menerima nasi yang bukan pesanannya. ”Awalnya memang
sedikit bingung, Sering tertukar karena bungkusnya sama,
daun semua. Tapi sekarang, sudah kami beri tanda untuk
masing-masing anak, sehingga tidak tertukar lagi,” jelas
Winarni, penjaga kantin.
Larangan menjual
minuman dalam bungkus plastik atau gelas sekali pakai juga
sempat merepotkan murid-murid. Sebab, mereka tidak bisa
membawa minuman dalam plastik ke sudut-sudut sekolah lagi.
Para murid mau tidak mau harus tetap berada di sekitar
kantin agar tidak repot mengembalikan gelas bekas minuman.
”Sekarang tidak
bisa langsung kembali ke kelas atau bermain ke tempat lain.
Capai kalau harus bolak-balik turun tangga . Kalau dulu kan
bisa dibungkus plastik,” kata Samantha Meidy Kusuma, murid
kelas enam yang kelasnya berada di lantai dua .
Meski begitu, para
murid menyadari bahwa upaya yang dilakukan sekolah untuk
mengurangi volume sampah yang tidak bisa didaur ulang
tersebut sangat penting. Buktinya, sebulan setelah aturan
itu diberlakukan, anak-anak sudah sudah terbiasa. Bahkan,
mereka kemudian sangat mendukung program tersebut.
Salah satu
dukungan para murid ditunjukkan olah pengelolaan sampah
mandiri. Semua sampah yang mereka hasilkan dipisah menurut
jenisnya. Daun, sisa makan, kertas dan bahan lain yang bisa
terurai dikumpulkan dalam keranjang bertanda ’sampah
organik’. Sampah itu selanjutnya dikomposkan di ’keranjang
takakura’. Sampah plastik, kaleng, karet dan logam mereka
buang di keranjang ’sampah nonorganik’. Ketiga keranjang itu
memang disiapkan di tiap kelas.
Murid-murid
juga membuat jadwal piket harian. Setiap hari, sepuluh anak
bergantian bertugas memilah sampah. ”Kalau piket, ya harus
mau mengaduk-aduk sampah dan membuangnya di tempat yang
benar,” ujar James Leicester, salah seorang murid kelas
enam. Setelah itu, mereka harus mengecek kompos di keranjang
takakura di sekolah.
Bukan hanya itu,
murid yang terkena jadwal piket bertugas memantau
perkembangan tanaman toga dan tanaman buah sekolah. Mereka
wajib menyiram serta memupuknya. Mereka juga ditugasi
menyapu serta membersihkan kelas dan halaman depan kelas.
Selain kebersihan lingkungan sekolah terjaga, tugas seperti
itu sekaligus memupuk rasa cinta siswa terhadap lingkungan.
Tanaman
obat-obatan atau yang lebih dikenal dengan TOGA di sekolah
juga tidak hanya ditanam. Tanaman-tanaman tersebut juga
dimanfaatkan oleh siswa. Pemanfaatan tanaman tersebut
biasanya diolah untuk minuman seperti sinom, beras kencur
dan jahe. Minuman olahan TOGA tersebut biasanya disajikan
saat sekolah sedang ada tamu.
Tak sia-sia,
terobosan SD Santa Theresia 1 tersebut membuahkan prestasi
membanggakan. Mereka berhasil meraih Penghargaan Sekolah
Adiwiyata Nasional. Itulah penghargaan di bidang lingkungan
hidup untuk sekolah layaknya Adipura untuk kota / kabupaten.
(black) |