|
20 Juli 2009
Lahan Sempit, SDN
Petemon XIII Surabaya Dapat Penghargaan Sekolah Adiwiyata
Nasional Dari MenLH Dan Mendiknas
Ini bukti bahwa menjadi
Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup atau Sekolah
Adiwiyata Nasional tidak harus sekolah yang memiliki lahan
yang luas. SDN Petemon XIII Surabaya bukti nyatanya. Awal
Juni 2009, sekolah yang berada di perkampungan padat
kawasan Simo Sidomulyo ini mendapat penghargaan sebagai
Sekolah Adiwiyata Nasional 2009 dari Menteri Negara
Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional.
Penghargaan
diberikan di Jakarta dan diterima langsung oleh Kepala SDN
Petemon XIII Surabaya P. Harsoyo.
Lahan
sekolah ini tidak lebih dari seribu meter persegi atau
tepatnya 700 meter persegi. Letaknya berada di tepi sungai.
Seperti halnya tipikal kebanyakan sungai di Surabaya dan
kota besar lainnya di Indonesia, sungai di sebelah SDN
Petemon XIII juga nampak tidak jernih dengan banyak endapan
dan sampah non organik yang mengapung. Menyikapi kondisi
ini, sekolah menjadikan sungai di samping sekolah ini
menjadi salah satu sumber belajar lingkungan hidup. ”Siswa
kami sering melakukan aktivitas sungai di samping sekolah.
Aktivitasnya beragam, mulai sekadar pengamatan jenis sampah
yang terdapat di sungai dan pinggirannya hingga pengamatan
jenis satwa yang ada,” kata Harsoyo.
Lebih
lanjut Harsoyo menjelaskan bahwa program tentang sungai di
samping sekolah terus dikembangkan. ”Siswa kami khususnya
tim lingkungan hidup bahkan sudah melakukan pendataan
perilaku masyarakat yang tinggal di sekitar sungai.
Pendataan yang dilakukan meliputi bagaimana pengolahan
sampah rumah tangga yang selama ini dilakukan masyarakat
sekitar sungai. Pendataan lainnya juga tentang sikap
masyarakat terhadap sungai. Di tahun mendatang, kami
mempunyai impian menjadikan sungai di samping sekolah
menjadi jernih tanpa sampah dan endapan dan banyak ikan yang
berkembang biak,” kata Harsoyo yang akhir tahun ini memasuki
masa pensiun.
SDN Petemon XIII
Surabaya termasuk sekolah yang memiliki banyak terobosan
program lingkungan hidup. Diantara terobosan itu adalah
peraturan yang mengharuskan siswa menggunakan tepak
atau tempat pensil dari daur ulang plastik. ”Tempat pensil
ini tidak boleh didapat dengan cara membeli. Siswa bisa
membuatnya dengan bantuan orang tua di rumah. Namun, tempat
pensil ini tidak diperkenankan hanya dibuat oleh orang tua
saja, sementara siswa tidak ikut sama sekali dalam proses
pembuatannya,” kata Harsoyo.
Setiap
ruangan yang ada di sekolah juga selalu ada tanaman. Tidak
hanya ruang kelas, ruang guru dan ruang kepala sekolah,
ruang UKS dan kantin sekolah pun juga ada tanaman dalam pot.
Jenis tanaman yang ditempatkan di setiap ruangan itu adalah
jenis tanaman yang bisa tumbuh dengan sedikit atau bahkan
tanpa sinar matahari. ”Sebagian besar jenis tanamannya
adalah jenis Sansivera atau lidah mertua, beras kutah dan
irish. Sedangkan pot tanaman yang digunakan adalah pot dari
daur ulang bekas kaleng plastik cat tembok,” kata Harsoyo.
Sekolah ini
tergolong aktif mengikuti kegiatan lingkungan hidup yang
diselenggarakan oleh pihak lain.
Pada Nopember 2007 misalnya,
sekolah ini mengikuti Children Conference on Climate
Change 2007 di Surabaya yang juga diikuti anak-anak dari
beberapa negara. Pada Desember 2008, sekolah ini juga
mengikutsertakan beberapa siswanya sebagai peserta Mini
Conference on Climate Change yang diselenggarakan oleh
SD Ciputra dan Tunas Hijau. Pada April 2009, sekolah ini
terlibat pada program internasional, yaitu Indonesia Art
Miles sebagai bagian dari program mural internasional.
Selain
itu, pada awal Juni 2009, sekolah ini juga mengikutsertakan
25 orang guru dan siswanya untuk mengikuti Kampanye Anti
Udara Kotor yang digelar Tunas Hijau di Taman Bungkul
Surabaya pada 6 Juni 2009.
Kampanye ini juga
serentak dilaksanakan di 7 kota besar di Indonesia. Ketujuh
kota besar itu adalah Jakarta, Medan, Denpasar, Semarang,
Bandung, Makasar dan Surabaya. Pada kampanye ini mereka
menghiasi diri dengan segala atribut berisi ajakan untuk
mengurangi polusi udara.
Tentang model
pembelajaran lingkungan hidup di sekolah, SDN Petemon XIII
telah merintis pembelajaran monolitik bagi siswa kelas 4 dan
5. Setiap hari mereka juga ada 5 Menit Lingkungan Hidup
untuk seluruh kelas. ”Pada 5 Menit LH setiap kelas memiliki
tema berbeda dengan kelas lainnya. Misalnya kelas satu
tentang tema sampah. Kelas empat tentang tema Ozon.
Sedangkan kelas lima tentang pemanasan global. Untuk
realisasinya, setiap guru kelas diminta menyampaikan
sedikitnya satu informasi tentang tema tersebut,” kata
Kepala SDN Petemon XIII Surabaya Harsoyo.
Banyak
kemitraan lingkungan hidup yang dilakukan oleh SDN Petemon
XIII selama setahun terakhir.
Diantara kemitraan tersebut
adalah dengan Tunas Hijau – kids & young people do
actions for a better earth untuk pendampingan sekolah
Adiwiyata.
Ada kemitraan dengan SD Ciputra untuk upaya penanggulanan
banjir dengan pemanfaatan biopori. Ada kemitraan dengan
masyarakat sekitar untuk pengolahan sampah organik dengan
keranjang komposter. Pada kemitraan dengan masyarakat ini
siswa anggota tim lingkungan hidup SDN Petemon XIII Surabaya
bertugas mengontrol penggunaan keranjang komposter yang
telah dibagikan pada masyarakat sekitar.
Sementara itu,
sekolah ini juga cukup beken dengan kelompok musiknya yang
berlabel ”Ali Sordang”. Ali Sordang bukan nama seseorang.
Ali Sordang adalah kependekan dari Arek Pinggir Kali
Ngisore Wit Podang (Bawah Pohon Mangga). Istilah ini
adalah cerminan kondisi sekolah yang berada tepat di
pinggrir sungai dan di bawah Pohon Mangga yang ada di
sekolah. Tidak hanya namanya yang beken, kelompok ini juga
menggunakan beberapa peralatan musik yang merupakan barang
bekas yang mengeluarkan bunyi.
Daur
ulang sampah non organik menjadi salah satu aktivitas rutin
sekolah ini. Aktivitas ini biasanya dilakukan setiap hari di
bengkel kerja sekolah oleh para siswa secara bergiliran.
Daur ulang yang dilakukan diantaranya pemanfaatan sedotan
plastik dan sterofoam pembungkus buah menjadi bunga hias.
Begitu banyaknya bunga hias yang dihasilkan, hingga taman
bunga daur ulang sukses direaliasikan. Taman bunga yang
terdiri dari aneka bunga daur ulang karya siswa ditempatkan
di depan ruang bengkel kerja, di aula pertemuan dan ruang
kepala sekolah.
Sekolah ini juga
memiliki 13 Budaya Malu Lingkungan Hidup yang dibacakan
setiap hari oleh seluruh siswa di kelas sebelum pelajaran
dimulai. Butir-butir budaya malu itu adalah:
·
Malu
bila ada sampah tidak pada tempatnya
·
Malu
bila tidak membuang sampah pada tempat yang sesuai
·
Malu
bila ada tanaman yang tidak terawat
·
Malu
bila tidak pernah menanam pohon atau tanaman
·
Malu
bila tidak memilah sampah kertas, plastik dan organik
·
Malu
bila tidak bisa mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos
·
Malu
bila tidak bisa mendaur ulang sampah kertas dan plastik
·
Malu
bila membiarkan orang lain membuang sampah sembarangan
·
Malu
bila tidak membawa piring dan gelas sendiri dari rumah
·
Malu
bila minum dan jajan pakai kantong plastik
·
Malu
bila meninggalkan ruangan dengan lampu menyala
·
Malu
bila membiarkan air kran mengalir percuma
·
Malu
bila tidak punya tempat pensil daur ulang (roni) |