Headquarters: Semolowaru Indah T-9, Surabaya - 60119, Indonesia. Phone/Fax: +62-31- 5996816, Email: info@tunashijau.org  

 

SMP  Petra 3 Sby

 SD Santa Theresia 1 Sby

SMP Negeri 16 Sby

 

 

Semua Makanan Dibungkus Dengan Daun Pisang

SD Santa Theresia 1 Surabaya, Sekolah Adiwiyata 2007

Jarum jam menunjuk pukul 09.00 hari itu. Puluhan anak kelas lima dan enam berhamburan ke luar kelas. Salah satu tempat yang mereka tuju adalah kantin sekolah. Antrean panjang pun terjadi di ruangan di lantai satu gedung sekolah itu. Petugas kantin tampak kewalahan melayani pesanan bocah-bocah cilik tersebut.

Setelah mendapatkan makanan keinginanya, para siswa itu mengambil minuman yang disajikan dalam gelas plastik. Mereka lalu duduk dan makan bersama di sebuah meja besar di samping kantin. Dengan sigap anak-anak tersebut membuka bungkus-bungkus makanan. Sejurus kemudian, mereka tampak lahap menyantap jajanan yang disajikan dalam bungkus-bungkus daun pisang itu.

Seakan tidak ada yang janggal, anak-anak tersebut sangat lahap mantap. Dalam hitungan menit, makanan serta minuman tersebut habis disantap dan berpindah ke dalam perut masing-masing anak.

Selang beberapa saat, mereka bangkit dari tempat duduk menuju keranjang sampah tidak jauh dari meja besar tempat makan itu. Semua daun pembungkus makanan tersebut mereka buang ke keranjang sampah yang bertanda ’sampah organik’. Gelas minuman tersebut mereka cuci di wastafel kantin dan diletakkan kembali di rak di samping wastafel.

”Kami mengupayakan semua yang ada di kantin bisa didaur ulang. Jika memang bisa dipakai ulang, ya dicuci dan digunakan lagi,” kata Cornelius Matius Djoko Wismono, guru koordinator kegiatan lingkungan hidup SD Santa Theresia 1 Surabaya.

Kebiasaan baru di sekolah itu, kata dia, dilakukan  untuk mengurangi sampah plastik yang menumpuk di lingkungan sekolah. Bahkan, volume sampah plastik tersebut dulu jauh lebih besar daripada sampah organik yang dihasilkan kantin.

Karena itu, sejak Januari 2007, Kepala SD Santa Theresia 1 Lucia Anna Kamsani menetapkan aturan baru bahwa semua jajanan dan makanan yang dijual di kantin sekolah harus di bungkus daun. Boleh daun pisang atau daun jati. Itu  semua ditujukan untuk mengurangi volume sampah plastik yang sulit dimusnahkan dan diganti sampah organik yang mudah terurai.

Tak heran, kemudian semua jajanan di kantin sekolah tersebut berselimut dedaunan. Tidak hanya jajanan tradisional seperti lemper, nogosari, lepet, getuk lindri dan nasi goreng, jajanan masa kini seperti pangsit, donat, dan pizza yang biasanya disajikan dengan wadah ’moderen’ pun harus dibungkus daun pisang.

Minuman kemasan yang ditempatkan dalam wadah sekali minum sejak Januari 2007 lalu dilarang dijualbelikan di kantin SD Santa Theresia 1 Surabaya. Begitu pula, minuman yang dibungkus kantong plastik tidak boleh lagi disajikan untuk anak–anak. Minuman yang boleh dijual adalah berkemasan gelas plastik yang bisa dicuci dan dipakai ulang.

Perubahan drastis itu tentu mengagetkan banyak pihak. Bahkan, aturan tersebut sempat dipertanyakan para penyuplai makanan serta jajanan sekolah itu. Aturan yang tidak biasa itu dinilai terlalu berlebihan dan tidak praktis. Apalagi, mereka harus mencari daun pisang dan membersihkannya lebih dulu sebelum dipakai membungkus jajanan yang disetorkan ke kantin sekolah. Beberapa penyuplai pun sempat mogok, ogah menyuplai jajanan ke sekolah tersebut.

“Harga daun pisang di Surabaya relative lebih mahal, ketimbang bungkus makanan dari plastik mika atau kertas cokelat. Ya kami sempat berkeberatan atas aturan baru sekolah itu,” ujar salah seorang penyuplai jajanan ke kantin SD Santa Theresia 1 Surabaya.

Lucia- panggilan akrab Lucia Anna Kamsani – bisa memahami keberatan para pedagang tersebut. Karena itu, dia kemudian berusaha mencari solusi terbaik agar ide sekolah bebas dari sampah plastik tersebut tetap berjalan.

Akhirnya, dia mendapat strategi yang win–win solution. Dia memperbolehkan menaikkan harga makanan yang dijual dikantin atau mengurangi ukuran jajanan serta porsi makanan agar sesuai harga produksi makanan tersebut. ”Dengan solusi itu, mereka mau berjualan kembali,” ungkap wanita kelahiran Kota Malang tersebut.

Penerapan aturan makanan berbungkus daun itu sempat membuat murid–murid di Jalan Residen Sudiman Surabaya tersebut bingung. Mereka heran melihat semua makanan di kantin sekolahnya berganti wajah. Beberapa diantara mereka pun perlu beradaptasi terhadap rasa makanan yang dibungkus daun pisang atau daun jati tersebut.

”Saat makan kali pertama menggunakan daun pisang, rasanya agak aneh. Tapi lama–kelamaan terbiasa kok,” ujar Felix Hari Santosa, murid kelas empat.

Beberapa siswa pun sempat mengeluhkan berkurangnya beberapa porsi jajanan yang dijual di kantin. Sebab, ukuran jajanan serta porsi makanan tidak sebesar saat masih dibungkus mika, plastik atau kertas. ”Bentuknya lebih kecil. Nasinya pun lebih sedikit. Tapi, masih kenyang kok,” ungkap Neria Erlika, murid kelas empat lainnya.

Neria dan Felix pernah menerima nasi yang bukan pesanannya. ”Awalnya memang sedikit bingung, Sering tertukar karena bungkusnya sama, daun semua. Tapi sekarang, sudah kami beri tanda untuk masing-masing anak, sehingga tidak tertukar lagi,” jelas Winarni, penjaga kantin.

Larangan menjual minuman dalam bungkus plastik atau gelas sekali pakai juga sempat merepotkan murid-murid.  Sebab, mereka tidak bisa membawa minuman dalam plastik ke sudut-sudut sekolah lagi. Para murid mau tidak mau harus tetap berada di sekitar kantin agar tidak repot mengembalikan gelas bekas minuman.

”Sekarang tidak bisa langsung kembali ke kelas atau bermain ke tempat lain. Capai kalau harus bolak-balik turun tangga . Kalau dulu kan bisa dibungkus plastik,” kata Samantha Meidy Kusuma, murid kelas enam yang kelasnya berada di lantai dua .

Meski begitu, para murid menyadari bahwa upaya yang dilakukan sekolah untuk mengurangi volume sampah yang tidak bisa didaur ulang tersebut sangat penting. Buktinya, sebulan setelah aturan itu diberlakukan, anak-anak sudah sudah terbiasa. Bahkan, mereka kemudian sangat mendukung program tersebut.

Salah satu dukungan para murid ditunjukkan olah pengelolaan sampah mandiri. Semua sampah yang mereka hasilkan dipisah menurut jenisnya. Daun, sisa makan, kertas dan bahan lain yang bisa terurai dikumpulkan dalam keranjang bertanda ’sampah organik’. Sampah itu selanjutnya dikomposkan di ’keranjang takakura’. Sampah plastik, kaleng, karet dan logam mereka buang di keranjang ’sampah nonorganik’. Ketiga keranjang itu memang disiapkan di tiap kelas.

Murid-murid juga membuat jadwal piket harian. Setiap hari, sepuluh anak bergantian bertugas memilah sampah. ”Kalau piket, ya harus mau mengaduk-aduk sampah dan membuangnya di tempat yang benar,” ujar James Leicester, salah seorang murid kelas enam. Setelah itu, mereka harus mengecek kompos di keranjang takakura di sekolah.

Bukan hanya itu, murid yang terkena jadwal piket bertugas memantau perkembangan tanaman toga dan tanaman buah sekolah. Mereka wajib menyiram serta memupuknya. Mereka juga ditugasi menyapu serta membersihkan kelas dan halaman depan kelas. Selain kebersihan lingkungan sekolah terjaga, tugas seperti itu sekaligus memupuk rasa cinta siswa terhadap lingkungan.

Tanaman obat-obatan atau yang lebih dikenal dengan TOGA di sekolah juga tidak hanya ditanam. Tanaman-tanaman tersebut juga dimanfaatkan oleh siswa. Pemanfaatan tanaman tersebut biasanya diolah untuk minuman seperti sinom, beras kencur dan jahe. Minuman olahan TOGA tersebut biasanya disajikan saat sekolah sedang ada tamu.

Tak sia-sia, terobosan SD Santa Theresia 1 tersebut membuahkan prestasi membanggakan. Mereka berhasil meraih Penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional. Itulah penghargaan di bidang lingkungan hidup untuk sekolah layaknya Adipura untuk kota / kabupaten. (black)